NEGARA, Radar Bali.id – Musim kemarau mulai menunjukkan dampak nyata di wilayah Kabupaten Jembrana. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana melaporkan telah menerima permohonan bantuan air bersih pertama pada musim kemarau tahun ini.
Baca Juga: Bali Mulai Masuk Kemarau, BMKG Ingatkan Potensi Kekeringan dan Kebakaran Lahan di Bulan Agustus
Uniknya, permintaan pertama ini bukan datang dari permukiman warga, melainkan dari pihak sekolah yakni SMP Negeri 3 Melaya di Desa Manistutu yang mengalami krisis air akibat sumur bor setempat mengering.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra, menyatakan bahwa pihaknya bergerak cepat dengan mendistribusikan sebanyak 5.000 liter air bersih ke sekolah tersebut guna menunjang kebutuhan sehari-hari warga sekolah.
"Bantuan air bersih sudah kami salurkan sebanyak 5.000 liter. Distribusi dilakukan karena sumur bor di SMPN 3 Melaya mengalami kekeringan sejak sekitar satu minggu lalu," ungkap Agus Artana saat dikonfirmasi pada hari Sabtu (18/7/2026) siang Wita.
Menurutnya, pasokan air bersih tersebut sangat krusial untuk menunjang aktivitas sanitasi dan keperluan dasar lainnya agar proses belajar mengajar di sekolah tidak terganggu dan tetap berjalan normal.
Kawasan Desa Manistutu, khususnya lokasi SMPN 3 Melaya, diakui memang termasuk daerah yang kerap menjadi langganan krisis air bersih saat musim kemarau tiba. Kondisi geografis ini membuat wilayah tersebut masuk dalam peta pantauan rutin BPBD setiap tahunnya ketika curah hujan mulai menurun.
Meski demikian, hingga pertengahan Juli ini, BPBD mencatat belum ada permohonan bantuan air bersih yang masuk dari lingkungan permukiman warga. "Kami belum menerima laporan dari warga. Baru SMPN 3 Melaya yang mengajukan permohonan bantuan air bersih," imbuhnya.
Guna mengantisipasi potensi meluasnya dampak kekeringan, BPBD Jembrana memastikan seluruh personel dan armada tangki air tetap dalam kondisi siap siaga.
Masyarakat yang mulai mengalami kesulitan air bersih diimbau untuk segera melapor melalui pemerintah desa masing-masing agar bantuan bisa segera dijadwalkan.
”Kami sudah menyiagakan personel. Jika ada warga yang membutuhkan air bersih, silakan melapor melalui pemerintah desa. Setelah ada laporan, kami akan segera menindaklanjuti dengan pendistribusian air bersih,” tegas Agus Artana sembari meminta masyarakat untuk mulai bijak dan menghemat penggunaan air mengingat puncak musim kemarau diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.[*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali