DENPASAR, radarbali.jawapos.com — Suara dentang genta, lantunan mantra suci Veda, serta nyanyian nama suci Tuhan menggema di kawasan Griya Agung Krishna Balaram Ashram, Padang Galak, Denpasar pada Kamis (16/7/2026).
Ratusan umat Hindu dari berbagai pelosok Bali hingga luar daerah berkumpul di pasraman untuk menghadiri dan mengiringi perayaan kereta suci Jagannatha Ratha Yatra, salah satu festival Hindu paling megah dan bersejarah yang termuat dalam berbagai kitab Purana.
Ratha Yatra merupakan tradisi sakral Hindu yang diwariskan secara turun-temurun dan dirayakan setiap tahunnya pada pinanggal 2 bulan Asadha berdasarkan kalender Hindu.
Perayaan di Denpasar ini merujuk pada penanggalan yang sama persis dengan perayaan pusatnya di Jagannatha Puri, Odisha, India.
Sulinggih sekaligus guru kerohanian yang memimpin upacara, Sri Sriman Ida Dewa Agung Waisnawa Pandita Damodara Pandit Dasa—yang akrab disapa Guru Pandita—menjelaskan bahwa tradisi ini memiliki akar sejarah yang amat panjang dalam peradaban Hindu, membentang hingga zaman Satyayuga dan masa pemerintahan Raja Indradyumna.
“Sesuai dengan tradisi Hindu kuno di Jagannath Puri, perayaan Ratha Yatra selalu mengambil hari dewasa ayu yang sama dengan perayaan Ratha Yatra di Jagannatha Puri, Odisha, India, yaitu pada pinanggal 2 bulan Asadha menurut perhitungan kalender Hindu,” ujar Guru Pandita.
Beliau menegaskan bahwa festival ini diakui sebagai salah satu perayaan Hindu terbesar di dunia yang secara historis dilestarikan oleh para raja sejak zaman dahulu.
“Dalam Itihasa Mahabharata dan Ramayana, kita sering mendengar Dinasti Surya dan Dinasti Candra. Festival Ratha Yatra ini sejak zaman dahulu dilestarikan oleh raja-raja dari kedua dinasti tersebut,” tambah Guru Pandita.
Dalam prosesi puncak, tiga kereta suci berukuran megah diarak oleh ratusan umat yang hadir.
Sebelum ditarik, ketiga kereta tersebut terlebih dahulu menjalani prosesi upacara pamelaspasan dan penyucian secara ketat sesuai tatanan ritus Hindu di Bali untuk menyucikan berbagai sarana yang digunakan.
Menurut ketua panitia, Wayan Minggu, di atas ketiga kereta suci tersebut berstana tiga arca atau pratima keramat, yaitu Sri Jagannatha (manifestasi Sri Krishna), Sri Baladewa (Balarama), dan Dewi Subhadra. Ketiga pratima ini merupakan simbolisasi manifestasi ista dewata yang amat utama dalam ajaran Hindu, khususnya bhakti yoga (bhakti marga).
Mengenai kedudukan teologis serta historis dari ketiga figur suci tersebut, Guru Pandita memberikan penjelasan mendalam terkait filosofi di balik simbolisme yang diusung dalam festival ini.
“Sri Jagannatha (Jagatnata) adalah Sri Krishna sendiri, dan didampingi oleh Sri Baladewa (Balarama), dan Dewi Subhadra. Dalam sejarah Mahabharata, ketiga tokoh ini sangat penting. Siapa pun yang senang pada cerita Mahabharata pasti mengenal Sri Krishna, Balarama, dan Dewi Subhadra,” tutur Guru Pandita.
Lebih lanjut, beliau memaparkan bahwa makna utama dari penarikan kereta suci Ratha Yatra adalah simbol hubungan rohani dan kerinduan jiwa manusia untuk kembali terhubung dengan Sang Pencipta.
“Kehidupan sebagai manusia di dunia ini sangat utama. Siapa pun kita, dari suku, ras, agama, dan bangsa mana pun, kita memiliki satu tujuan, yakni mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan yang sejati hanya dapat dicapai apabila kita membangun kembali hubungan cinta kasih kita dengan Tuhan, karena Tuhan adalah sumber kebahagiaan atau ananda yang kekal. Selama ini, kita melupakan hubungan hakiki ini. Karena manusia melupakan hubungan yang manis dengan Tuhan inilah, manusia hanyut dalam suka-duka di dunia material ini. Momen Ratha Yatra ini membangkitkan kembali hubungan ini. Karena itu, kita menarik kereta suci ini dengan tali yang kuat, sebagai simbol ikatan rohani kita kepada Tuhan,” terang Guru Pandita mengeja makna filosofi.***
Editor : M.RidwanSumber : radarbali.jawapos.com