Keren! Jadi Khusus Kapal Mewah, Kapal Nelayan di Pelabuhan Benoa Direlokasi ke PPN Pengambengan Jembrana

Ni Kadek Novi Febriani • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 05:10 WIB
RELOKASI: Kawasan Pelabuhan Ikan di Benoa ini akan direlokasi ke Pengambengan Jembrana Bali, sedang di Benoa akan menjadi Bali Maritime Hub mulai tahun 2027. (NI KADEK NOVI FEBRIANI/radarbali.id)
RELOKASI: Kawasan Pelabuhan Ikan di Benoa ini akan direlokasi ke Pengambengan Jembrana Bali, sedang di Benoa akan menjadi Bali Maritime Hub mulai tahun 2027. (NI KADEK NOVI FEBRIANI/radarbali.id)

 

DENPASAR, radarbali.jawapos.com — Update terkini skema penataan pembanguna Bali segera dimulai dari kawasan pesisir. Kapal-kapal nelayan di Pelabuhan Benoa akan segera direlokasi ke Pelabuhan Pengambengan, Jembrana, pada tahun 2027. 

Tercatat sekitar 700 kapal yang harus dipindah. Pemindahan tersebut menyusul rencana pengembangan Pelabuhan Benoa sebagai pelabuhan marina berstandar internasional yang ditargetkan mampu menampung sekitar 188 yacht.

​Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko Infra), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), melakukan kunjungan kerja ke Pelabuhan Benoa pada Senin siang (21/7/2026).

Pengembangan kawasan ini menjadi Bali Maritime Tourism Hub (BMTH) merupakan proyek strategis dalam mendukung Bali sebagai destinasi wisata utama dunia.

​"Salah satu hal yang harus dilakukan adalah relokasi dan penataan kapal-kapal perikanan yang saat ini berada di kawasan sebelah sana. Nantinya akan diarahkan ke pelabuhan pengembangan yang menjadi bagian dari tugas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)," jelas AHY.

Baca Juga: Prediksi Cuaca Bali, Hari Ini Selasa (22/7/2026) : Dominan Cerah Berawan

​Pelabuhan Benoa yang dikembangkan sebagai marina berpotensi menampung hingga 188 kapal yacht dengan berbagai ukuran, termasuk super yacht dan mega yacht. Selain itu, kawasan ini juga akan dilengkapi fasilitas tambat bagi kapal pesiar (cruise ship) berkapasitas hingga lima kapal besar.

​"Diharapkan dapat mendatangkan semakin banyak wisatawan dari berbagai negara. Kita tahu jumlah wisatawan domestik terus meningkat, tetapi wisatawan mancanegara, khususnya mereka yang termasuk kategori high spending tourism atau memiliki tingkat belanja tinggi, juga menjadi target yang ingin kita tarik," ujarnya.

​Menurut AHY, menggenjot kunjungan wisatawan mancanegara tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas tambat berstandar internasional, melainkan juga harus didukung ketersediaan air bersih, pasokan listrik yang memadai, serta dermaga kokoh berteknologi terkini.

​Ke depan, kawasan tersebut juga akan dilengkapi berbagai fasilitas penunjang seperti area hiburan, pusat perbelanjaan, taman terbuka, ruang terbuka hijau, serta kawasan yang aman dan nyaman bagi pengunjung.

​"Ini merupakan bentuk kerja sama yang baik. Pemerintah mengapresiasi dan tentu terus mendorong serta mendukung pengembangannya, termasuk melalui penyempurnaan berbagai regulasi yang masih perlu dibenahi. Selain itu, pemerintah juga akan terus menciptakan iklim investasi yang semakin kondusif dan menjanjikan, karena pengembangan tahap berikutnya membutuhkan investasi yang tidak sedikit," terangnya.

Baca Juga: Pelindo Garap Pelabuhan Kapal Pesiar dan Terminal BBM Rp 12 Triliun di Benoa

​Rencananya, BMTH akan dibuka secara bertahap pada akhir tahun 2028. Penataan akan terus dilakukan secara profesional dengan tetap memegang teguh prinsip-prinsip keberlanjutan.

​"Kemarin saya juga memimpin Rapat Koordinasi Pengembangan Wilayah Bali di Kantor Gubernur Bali bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas, Menteri Pariwisata, Menteri Ekonomi Kreatif, Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/BPN, Gubernur Bali, serta para bupati dan wali kota se-Provinsi Bali," bebernya.

​AHY juga mewanti-wanti agar proyek pengembangan ini benar-benar memenuhi standar keberlanjutan (sustainability), tidak mengabaikan aspirasi masyarakat setempat, serta memperhatikan tata ruang wilayah, baik Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) maupun Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).

​"Maka kawasan ini tidak hanya akan menjadi sebuah hub, tetapi juga menjadi daya tarik baru," imbuhnya.

​Berdasarkan hasil studi, terjadi peningkatan sekitar 7,5 persen CAGR (Compound Annual Growth Rate) terhadap permintaan yacht secara global dari tahun ke tahun. Pemerintah menargetkan sebagian dari potensi tersebut dapat ditarik untuk berkunjung ke Bali.

​Sementara itu, Kepala Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan, Kartono, yang hadir sebagai perwakilan KKP, mengatakan bahwa progres pengembangan Pelabuhan Benoa akan memasuki penandatanganan kontrak pada akhir bulan ini. Proses tersebut kemudian akan dilanjutkan dengan groundbreaking pada minggu ketiga bulan Agustus.

​"Adapun timeline pemindahan kapal-kapal yang saat ini berada di kawasan ini direncanakan berlangsung pada tahun 2027, seiring dengan selesainya pembangunan fasilitas di lokasi baru. Dengan demikian, pada akhir tahun 2028 diharapkan seluruh proses relokasi telah selesai," beber Kartono.

​Ia menambahkan, para nelayan diklaim telah menyetujui rencana relokasi ke Jembrana karena sebelumnya telah dilakukan rangkaian sosialisasi.

​"Kegiatan sosialisasi sudah dilakukan dan mereka pada prinsipnya sudah siap. Jadi ketika fasilitas di lokasi baru telah selesai dibangun, mereka akan berpindah secara bertahap ke sana," tandasnya.***

 

Editor : M.Ridwan
Sumber : radarbali.jawapos.com
Bali Maritime Tourism Hub pengambengan jembrana pelabuhan benoa ahy BMTH