DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Sang maestro dongeng dan permainan tradisional Bali, I Made Taro, berpulang. Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi Bali berkomitmen meneruskan warisan pelestarian permainan tradisional yang selama ini diperjuangkannya.
Dedikasi dan konsistensinya dalam merawat serta menjaga warisan permainan tradisional Bali terus dikenang. Made Taro meninggal dunia pada Kamis (23/7/2026) pukul 01.30 Wita di Rumah Sakit Bali Mandara (RSBM) di usia 87 tahun.
Kepergian sosok tersebut meninggalkan duka mendalam, termasuk bagi Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana.
Baginya, almarhum bukan sekadar tokoh, melainkan menjadi "kompas" dalam upaya membangkitkan kembali cerita rakyat dan permainan tradisional di Pulau Dewata.
"Bapak Made Taro adalah tokoh besar, khususnya dalam upaya pelestarian permainan tradisional anak-anak di Bali. Berkat dedikasi beliau dalam membina anak-anak, berbagai permainan tradisional Bali masih tetap lestari hingga saat ini. Kami sangat merasa kehilangan atas kepergian beliau," ungkap Alit Suryana.
Kadisbud menaruh harapan besar agar kelak lahir generasi penerus yang mewarisi kecintaan Made Taro terhadap permainan tradisional dan seni mendongeng.
Selama ini, Disbud Bali selalu melibatkan dan meminta petunjuk sang maestro, terutama saat menggelar Jantra Tradisi Bali.
"Mudah-mudahan ke depannya akan muncul banyak generasi penerus yang mewarisi semangat beliau. Selama ini, Dinas Kebudayaan sering bekerja sama dengan beliau, terutama dalam rangkaian kegiatan Jantra Tradisi Bali yang secara khusus menampilkan permainan tradisional anak-anak," jelasnya.
Sebagai sumber rujukan utama, sumbangsih pemikiran Made Taro sangat vital bagi Disbud Bali. Sang maestro tak segan membagikan data awal dan memetakan keberadaan permainan tradisional yang masih hidup di berbagai daerah untuk kemudian dibina dan dipentaskan.
"Kami rutin berkomunikasi dan meminta nasihat serta petunjuk beliau mengenai jenis permainan yang tepat untuk diangkat. Dari beliau, kami mendapatkan petunjuk mengenai keberadaan permainan tradisional di berbagai daerah, seperti di Buleleng maupun Tabanan. Informasi dari beliau itulah yang memungkinkan kami menyelenggarakan pementasan di Jantra Tradisi Bali dengan baik," terangnya.
Sejatinya, Alit Suryana masih memiliki rencana panjang untuk menggandeng Made Taro dalam program pembinaan permainan rakyat ke depan.
"Kami sudah memiliki rencana untuk kembali bekerja sama dengan beliau guna membina permainan rakyat agar dapat ditampilkan pada pelaksanaan Jantra Tradisi Bali selanjutnya. Namun, beliau kini telah berpulang," ungkapnya.
Mengingat usia sang maestro yang sudah sepuh, selama ini komunikasi dan proses pencatatan informasi budaya lebih banyak dilakukan secara lisan. Pihak Disbud biasanya proaktif mendatangi langsung kediaman almarhum. Meski sang maestro telah tiada, Alit Suryana menegaskan komitmen pelestarian itu tidak akan surut.
"Kami yang biasanya datang langsung mengunjungi beliau untuk meminta petunjuk. Ke depannya, kami akan terus memantau perkembangan, mencari sosok penerus yang dapat diajak bekerja sama, dan berupaya agar warisan lisan dari beliau dapat terus dilestarikan," tandasnya.
Selain sebagai pendongeng, I Made Taro juga merupakan pendiri Sanggar Kukuruyuk. Penjaga cerita rakyat Bali itu mengembuskan napas terakhir tepat pada Hari Anak Nasional, 23 Juli 2026. Selama kurang lebih satu bulan, I Made Taro menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Bali Mandara.
Putra keempat almarhum, I Ketut Tarmadi, mengatakan ayahnya jarang mengeluh. Namun, seminggu sebelum Hari Raya Kuningan, almarhum sempat mengeluhkan sakit perut pada siang hari.
"Waktu itu sempat saya urut pakai minyak adas karena hari sebelumnya BAB-nya lancar," tutur Ketut Tarmadi di kediamannya di Sidakarya, Denpasar.
Karena tak kunjung sembuh, keluarga membawa I Made Taro ke Rumah Sakit Bali Mandara. Hasil rontgen dan CT scan menunjukkan adanya masalah pada usus halus yang dipicu riwayat hernia yang diidapnya.
Kondisi pencernaannya sempat membaik. Namun, saat Umanis Kuningan, mendiang mengalami demam tinggi. Setelah diperiksa, ditemukan adanya infeksi pada paru-paru.
Sejak saat itu kondisinya terus menurun hingga sempat mengalami henti napas. Kondisi tersebut membuat Made Taro beberapa kali menjalani perawatan di ruang intensive care unit (ICU) akibat gagal napas.
Pada masa kritis tersebut, tim medis sempat melakukan tindakan trakeostomi untuk membantu pernapasan almarhum.
"Kami dari keluarga sempat diberikan pelatihan oleh pihak medis untuk perawatan mandiri karena saturasi oksigen Bapak ditargetkan di angka 88–92," kata Tarmadi.
Setelah perawatan itu, Made Taro sempat menunjukkan tanda-tanda perbaikan dan bisa menonton televisi.
Namun, takdir berkata lain. Pria asal Sengkidu, Karangasem, itu kembali mengalami penurunan kondisi hingga akhirnya meninggal dunia pada Kamis dini hari setelah sebulan menjalani perawatan.
Jenazah I Made Taro saat ini disemayamkan di Rumah Duka Dharma Yadnya, Denpasar. Para pelayat dipersilakan datang pada 24–25 Juli 2026.
Sementara itu, prosesi kremasi direncanakan berlangsung pada 26 Juli 2026 di Krematorium Punduk Dawa, Klungkung.***
Editor : M.RidwanSumber : radarbali.jawapos.com