RADAR BALI - Ancaman genangan yang kerap melumpuhkan aktivitas warga dan wisatawan di kawasan Kuta, Legian, serta Seminyak (Samigita) setiap musim penghujan kini mulai diurai secara menyeluruh.
Langkah masif ini merupakan bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Badung merespons bencana banjir besar yang sempat menerjang kawasan segitiga emas pariwisata tersebut pada pertengahan Desember 2025 lalu.
Peristiwa yang berlangsung sekitar 9 hingga 14 Desember 2025 tersebut dipicu oleh kombinasi hujan ekstrem berdurasi panjang, tingginya volume air kiriman dari Badung utara, serta fenomena pasang air laut.
Aliran utama Tukad Mati saat itu melampaui daya tampung maksimal hingga permukaan air menyentuh bibir tanggul di titik pantau Trashrake Legian dan Dam Suetan. Efek hambatan air pasang (backwater effect) di muara Patasari membuat air tak bisa terbuang ke laut, memicu luapan hebat hingga merendam jalan protokol, pemukiman, serta vila-vila pariwisata.
Sejumlah koridor vital seperti Jalan Dewi Sri, Jalan Campuhan, Jalan Pandawa, Jalan Kunti II Seminyak, hingga Jalan Kartika Plaza Kuta terendam air dengan ketinggian bervariasi mulai dari 30 sentimeter hingga setinggi pinggang orang dewasa (70–80 cm).
Situasi darurat tersebut sempat memaksa tim gabungan BPBD Badung dan Balawista menerjunkan perahu karet untuk mengevakuasi puluhan warga serta belasan wisatawan mancanegara yang terjebak di akomodasi wisata.
Guna mencegah terulangnya peristiwa kelam tersebut, Pemkab Badung mengeksekusi proyek besar pengendalian banjir dengan mengombinasikan perbaikan saluran air masif dan penyiapan mesin penyedot raksasa menuju muara Teluk Benoa.
Langkah krusial yang ditempuh Pemkab Badung adalah menyiagakan sistem penyedot berdaya dorong hingga 30.000 liter per detik. Sarana ini ditempatkan di titik strategis aliran Tukad Mati menuju Teluk Benoa untuk menyedot luapan air dari kawasan dataran rendah dan membuangnya langsung ke laut dalam waktu singkat.
Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menegaskan bahwa persoalan banjir di koridor vital bisnis dan pariwisata, seperti kawasan Jalan Dewi Sri, Kuta, Legian, hingga Seminyak, memang menjadi masalah menahun yang cukup meresahkan. Proyek pembenahan komprehensif ini baru dapat digulirkan setelah ketersediaan anggaran dialokasikan melalui APBD Induk 2026.
"Banjir di kawasan Jalan Dewi Sri sudah menjadi momok yang hampir setiap tahun terjadi saat musim hujan. Baru sekarang bisa dikerjakan karena anggarannya baru tersedia di APBD Induk 2026, sehingga tahun ini baru bisa dieksekusi," ujarnya.
Pekerjaan fisik yang sedang berjalan mencakup pembaharuan dan pembuatan saluran pengendali banjir sepanjang 6.330 meter. Infrastruktur baru ini dirancang menggunakan box culvert berukuran besar guna memperlancar arus dari kawasan permukiman dan jalan protokol menuju aliran sungai utama.
Guna memaksimalkan efektivitasnya, proyek ini turut didukung penataan kolam penampungan sementara (long storage) serta pemasangan pintu air otomatis (automatic floodgate). Sistem ini berfungsi ganda: menampung debit air hujan yang melonjak sekaligus memblokir luapan air laut saat pasang (rob) agar tidak masuk ke daratan Kuta dan Seminyak.
"Mudah-mudahan dengan perbaikan drainase yang cukup lebar dan bagus, banjir yang sering terjadi di sepanjang Dewi Sri dan sekitarnya dapat diminimalisir. Harapan kami tentu secara rutin dapat melaksanakan normalisasi di aliran Tukad Mati," lanjut Adi Arnawa.
Seluruh pengerjaan di kawasan Kuta ditargetkan rampung pada November 2026 agar infrastruktur tersebut beroperasi penuh sebelum puncak musim hujan yang diperkirakan berlangsung pada Desember.
Selain Kuta, pemkab menyasar titik rawan lain di Seminyak, seperti area depan Kantor Kelurahan Seminyak dan bekas Kantor BPBD Badung, yang saat ini masuk tahap studi kelayakan.
Sementara untuk strategi jangka panjang, Pemkab Badung merencanakan pembangunan embung penampung air hujan dari wilayah utara. Embung ini tidak hanya menahan laju air ke selatan, tetapi juga dialokasikan sebagai pasokan air baku Perumda Air Minum Tirta Mangutama.
Meski didukung infrastruktur megah, mantan Sekda Badung itu menekankan pentingnya sinergi dan kesadaran masyarakat dalam mengelola lingkungan agar proyek bernilai besar ini berfungsi optimal.
"Saya minta masyarakat untuk tetap memilah sampah dan jangan membuang sampah sembarangan. Walaupun kita buat drainase sebesar apa pun dan sebaik apa pun, tapi kalau masyarakat masih tidak mendukung program kami, juga akan susah," tegasnya.***
Editor : Ibnu Yunianto
Sumber : Radar Bali