Tren Liburan Singkat di Bali Meredup, Turis Asing Pilih Menetap Jadi Penduduk

Dhian Harnia Patrawati • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 19:02 WIB
Ilustrasi - Usaha rental sepeda motor yang dioperasikan WNA yang tinggal menetap di Bali.
Ilustrasi - Usaha rental sepeda motor yang dioperasikan WNA yang tinggal menetap di Bali.

 

RADAR BALI -— Fenomena pergeseran perilaku warga negara asing (WNA) di Bali kian terlihat jelas. Di tengah tren penurunan tipis jumlah kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) secara keseluruhan, jumlah WNA yang memilih memperpanjang izin tinggal hingga menetap dalam jangka panjang di Pulau Dewata justru menunjukkan lonjakan yang signifikan.

Berdasarkan catatan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Bali sepanjang Semester I-2026, Bali menyumbangkan Rp405,25 miliar ke kas negara dari sektor pendapatan visa dan layanan keimigrasian WNA. Angka ini menjadi kontributor terbesar dalam kategori Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Lainnya di Bali.

Pergeseran Tren: Dari Pelesir Menjadi Penghuni

Salah satu poin paling menarik dari laporan data keimigrasian periode ini adalah munculnya fenomena paradoks antara tingkat kunjungan singkat dengan pengurusan izin tinggal jangka panjang.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat total kunjungan wisman periode Januari–Mei 2026 sebanyak 2,59 juta jiwa, atau mengalami penurunan sekitar 1,77 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kendati demikian, penerimaan dari pos Izin Keimigrasian dan Izin Masuk Kembali justru menunjukkan performa yang sangat kuat, yakni menembus Rp136,5 miliar atau sudah mencapai 65,6 persen dari target tahunan sebesar Rp207,9 miliar.

Kondisi ini mengindikasikan adanya pergeseran pola kedatangan. WNA yang masuk ke Bali kini tidak lagi sebatas pelesiran atau berlibur singkat, melainkan terdorong untuk memperpanjang izin tinggal mereka, baik sebagai pekerja jarak jauh (digital nomad), pelaku usaha, maupun pemegang visa jangka panjang lainnya.

Ketimpangan Pintu Masuk dan Dinamika Pendapatan

Secara keseluruhan, kontribusi pendapatan imigrasi Bali masih terpusat secara masif di satu titik kedatangan.

Dominasi Jalur Udara: Dari total setoran visa sebesar Rp405,25 miliar, Kantor Imigrasi Kelas I TPI Ngurah Rai menyumbangkan Rp402 miliar atau setara 99,2 persen.

Hal ini menunjukkan ketergantungan penuh sektor imigrasi Bali pada gerbang udara di Kabupaten Badung, sementara pintu masuk melalui pelabuhan laut masih berkontribusi sangat minim.

Koreksi Nilai PNBP: Nilai realisasi PNBP visa pada Semester I-2026 ini tercatat mengalami penurunan dibanding periode Semester I-2025 yang sempat menyentuh angka Rp717,8 miliar.

Koreksi nominal rupiah ini dipengaruhi oleh krisis geopolitik global serta dinamika pemilihan jenis visa yang dimanfaatkan oleh WNA.

Tulang Punggung Kas Negara di Daerah

Meskipun terdapat fluktuasi pada nominal pendapatan visa, keberadaan sektor keimigrasian terbukti tetap menjadi tulang punggung penerimaan negara di Bali. Secara umum, total pendapatan kategori Badan Layanan Umum (BLU) di Bali tumbuh positif sebesar 22,34 persen mencapai Rp1,11 triliun.

Fenomena melonjaknya WNA yang menetap ini membawa dampak ganda bagi Bali. Di satu sisi, masa tinggal WNA yang lebih lama berpotensi menggerakkan roda ekonomi lokal secara lebih berkelanjutan.

Namun di sisi lain, kondisi ini juga menuntut pengawasan keimigrasian serta tata kelola wilayah yang lebih ketat agar dinamika sosial dan tata ruang Bali tetap terjaga.***

 

Editor : Ibnu Yunianto
Sumber : Radar Bali
Pariwisata Bali 2026 Kunjungan Wisman Bali WNA Menetap di Bali Izin Tinggal WNA Imigrasi Bali