DENPASAR, radarbali.jawapos.com — Di tengah dinamisnya tantangan hidup—mulai dari persoalan ekonomi, tekanan pekerjaan, hingga keretakan hubungan keluarga—kebahagiaan sejati sering kali dianggap sebagai sesuatu yang rapuh.
Menjawab kebutuhan dasar manusia tersebut, Saksi-Saksi Yehuwa menggelar Pertemuan Regional bertema “Bahagia Selamanya” di Bali Sunset Road Convention Centre yang berlangsung selama tiga hari, Jumat hingga Minggu (14-16 Agustus 2026).
Melalui pertemuan ini, masyarakat diajak melihat bahwa kebahagiaan sejati tidak semata-mata bergantung pada kondisi di luar diri, melainkan dapat dibangun di atas fondasi yang kokoh: hubungan yang erat dengan Pencipta dan penerapan prinsip praktis Alkitab dalam kehidupan sehari-hari.
Tenno Makalew, juru bicara regional Saksi-Saksi Yehuwa, menjelaskan bahwa tema tahun ini dirancang untuk menyentuh hati setiap orang dari berbagai latar belakang.
“Tema ini dipilih karena kebahagiaan adalah sesuatu yang diinginkan semua orang. Namun, kami menyadari keadaan hidup bisa berubah dan memengaruhi perasaan kita. Melalui pertemuan ini, kami ingin menunjukkan bahwa Alkitab memberikan prinsip-prinsip praktis agar seseorang memiliki kebahagiaan yang tidak mudah hilang hanya karena keadaan berubah,” ungkap Tenno, kepada radarbali.id di sela khutbah yang dihadiri sedikitnya 1.000 jemaat tersebut.
Tenno juga mengungkapkan, bahwa pesan kunci pada pertemuan kali ini adalah fondasi kebahagiaan
Pesan Kunci & Rangkaian Acara
- Fondasi Kebahagiaan: Rangkaian acara hari Jumat dibuka dengan mengulas kebutuhan rohani manusia berdasarkan Matius 5:3, menggarisbawahi bagaimana ajaran dan teladan Yesus Kristus menjadi kompas dalam menjalani hidup.
- Visualisasi Inspiratif: Salah satu sesi utama adalah pemutaran Episode 4 dari seri video “Kabar Baik Menurut Yesus”, yang menggambarkan cara Yesus mengajar, memperlakukan sesama, dan berempati kepada mereka yang menderita.
- Relevansi Keseharian: Bagi hadirin seperti Aditya Kumar, materi yang disampaikan terasa sangat dekat dengan pergumulan hidup sehari-hari. "Tema ini sangat menyentuh karena memberi sudut pandang baru tentang cara menyikapi masalah," ungkap Aditya.
Pertemuan Regional ini bersifat inklusif, terbuka untuk umum, dan sepenuhnya gratis tanpa ada pengumuman atau pengumpulan uang. Bagi masyarakat yang tidak dapat hadir langsung, seri video “Kabar Baik Menurut Yesus” dapat diakses secara bebas melalui situs resmi jw.org.
Terlebih, materi-materi khutbah dan agenda kegiatan diterjemahkan ke dalam 1.000 bahasa internasional
Melalui gelaran ini, pesan mendasar yang ingin disampaikan adalah harapan: bahwa kebahagiaan sejati bukanlah mimpi yang pudar saat badai kehidupan datang, melainkan kenyataan yang dapat dimiliki dan bertahan selamanya.
Salah seorang hadirin, Aditya Kumar, asal Medan keturunan India yang sudah tinggal di Badung Bali, tema yang diangkat dalam pertemuan tersebut terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Menurut Aditya, para jemaat yang hadir umumnya tidak kenal satu sama lain.
”Pertemuan ini membuat kita menjalin persaudaraan yang lebih kekeluargaan meski kita umumnya tak kenal satu sama lain,” ungkap Aditya.
Dia menuturnkan, sangat bersyukur ada yang mengingatkan bahwa setiap orang harus lebih dekat dengan Tuhan untuk menemukan kebahagiaan.
”Ternyata apa yang saya dapatkan belum tentu menjamin kebahagiaab. Sudah punya pekerjaan seperti saya tidak menjamin sudah bahagia, puji Tuhan dengan menyimak khutbah dari para pembicara saya baru paham bahwa kita harus lebih dekat dengan Tuhan, karena memang dirasakan langsung tidak langsung Tuhan itu benar-benar kasih sayang dengan kita,” ungkap Aditya Kumar.***
Editor : M.RidwanSumber : radarbali.jawapos.com