DENPASAR, Radar Bali.id – Pengelolaan sumber daya air di Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida menghadapi tantangan hidrologis yang signifikan.
Baca Juga: Kekeringan Semakin Meluas di Jembrana, 11 Desa Krisis Air Bersih, akhirnya BPBD Opsi Siaga Darurat
Hal itu terjadi akibat fluktuasi ketersediaan air antara musim penghujan dan kemarau. Hal ini disampaikan VP Regional III Perum Jasa Tirta I (PJT I), Didik Ardianto di Denpasar, Kamis (20/8/2026).
Baca Juga: Krisis Air Bersih Meluas di Jembrana, BMKG Diprediksi Kemarau Berakhir Desember
Dia mengatakan, pada musim penghujan, tingginya curah hujan tahunan yang mencapai lebih dari 2.000 mm sering kali menyebabkan surplus aliran permukaan yang memicu banjir di beberapa wilayah di Bali. ”Kondisi ini juga menjadi semakin kompleks dengan adanya peningkatan laju alih fungsi lahan,” ujarnya.
Laju alih fungsi lahan ini juga menyebabkan proses sedimentasi sungai, sehingga daya tampung sungai dan bendungan yang ada menjadi berkurang. Dampaknya, terjadi peningkatan sedimentasi dan instabilitas lahan yang mempengaruhi kapasitas drainase alami sungai. Sementara memasuki musim kemarau, tantangan beralih pada defisit neraca air yang tersebar di hampir seluruh zona di BWS Bali-Penida.
”Dengan tekanan terbesar berada di Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (Zona Sarbagita) yang mengalami kekurangan air signifikan untuk pemenuhan kebutuhan domestik dan industri,” tuturnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, salah satu kegiatan pengelolaan SDA yang akan dilaksanakan oleh Perum Jasa Tirta I pada tahap awal penugasan adalah penguatan sistem hidrometeorologi melalui implementasi Smart Water Management System (SWMS).
Sistem tersebut digunakan untuk melakukan pemantauan dan prediksi hujan dan debit, sehingga nantinya diharapkan bisa menjadi decision support system yang baik bagi seluruh pemangku kepentingan pengelolaan SDA di BWS Bali-Penida, sebagaimana yang telah diimplementasikan oleh PJT I di lima wilayah kerja sebelumnya. Nantinya dua peralatan ini akan dipasang di Denpasar dan Badung.
Sementara itu, Kepala Divisi Jasa Air dan Sumber Air BWS Bali-Penida PJT I, Hamim Ghufroni mengatakan pihaknya siap membawa pengalaman pengelolaan lima wilayah sungai eksisting untuk mendukung pelaksanaan penugasan di BWS Bali-Penida. Salah satu fokus yang akan diperkuat adalah sistem informasi SDA melalui pengembangan SWMS dan pemanfaatan teknologi telemetri.
Dalam pelaksanaannya, PJT I juga akan memperkuat kolaborasi dengan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA), BWS Bali-Penida, Pemerintah Provinsi Bali, pemerintah kabupaten/kota, serta pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi tersebut diperlukan untuk memastikan pengelolaan SDA dapat berjalan secara terpadu dan sesuai dengan kebutuhan wilayah.
”Untuk pemenuhan air baku, PJT I akan berupaya seoptimal mungkin seperti yang dilakukan di lima WS eksisting,” jelasnya.
Perum Jasa Tirta I sendiri memperkuat kontribusinya dalam pengelolaan sumber daya air nasional melalui penugasan di Wilayah Sungai (WS) Bali-Penida. Direktur Operasional PJT I, Milfan Rantawi mengatakan penugasan dilaksanakan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres RI) Nomor 9 Tahun 2026 yang diterbitkan 22 April 2026.
”Kehadiran PJT I di WS Bali-Penida ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pengelolaan sumber daya air yang terpadu, berkelanjutan, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta perkembangan perekonomian di Bali,” jelas Milfan, Kamis (20/8/2026).
Sebagai bagian dari tahapan awal pelaksanaan penugasan, pihaknya bersama Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) telah menyelenggarakan Sosialisasi Keppres Nomor 9 Tahun 2026 untuk WS Bali-Penida pada 30 Juni 2026.
Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan tugas dan peran PJT I sekaligus membangun koordinasi dengan BWS Bali-Penida, pemerintah daerah, pengguna SDA, masyarakat, serta pemangku kepentingan lainnya. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali