DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Pemerintah Provinsi Bali akan mendapatkan hibah 11 bus listrik. Belasan bus bertenaga listrik ini akan menambah jumlah armada transportasi umum di Bali.
Namun, hingga saat ini belum dapat dipastikan kapan bus tersebut mulai mengaspal.
Jika menilik ke belakang, ini bukanlah kali pertama bus listrik hadir di Bali. Sebelumnya, beberapa bus listrik milik pihak swasta sempat diuji coba.
Kepala Seksi Operasional Sarbagita, I Made Purwadana, mengungkapkan bahwa 11 bus listrik asal Korea Selatan tersebut direncanakan beroperasi pada Oktober mendatang.
"Rencana perkiraan di bulan Oktober, masih tergantung administrasi nantinya," kata Purwa saat dikonfirmasi via sambungan telepon (25/8/2026).
Baca Juga: BATIC 2026: TelkomGroup Catatkan Lonjakan Pertumbuhan Konektivitas Global dan Ekosistem AI
Informasinya 11 bus ini akan melayani rute GOR Ngurah Rai hingga Garuda Wisnu Kencana (GWK)
Terkait bus listrik yang pernah diuji coba sebelumnya, Purwa menjelaskan bahwa belum ada armada yang beroperasi secara reguler karena statusnya masih sebatas uji coba oleh pihak swasta. Bus yang sempat beroperasi itu diperuntukkan untuk mengetahui kesan para pengguna transportasi umum.
"Itu melakukan uji coba untuk mengambil masukan kesan pengguna," imbuh Purwa.
Sementara itu, 11 bus hibah dari Negeri Ginseng tersebut merupakan bagian dari program kerja sama hibah dari pemerintah Korea Selatan melalui Global Green Growth Institute (GGGI) bersama Bappenas, Kemenhub, Kementerian ESDM, dan Pemerintah Provinsi Bali.
"Kalau untuk bus ini ukurannya sama dengan Trans Sarbagita," terang Purwa.
Di sisi lain, pengamat kebijakan transportasi dari World Resources Institute (WRI) menilai hibah 11 bus listrik untuk Bali merupakan langkah nyata dalam upaya transisi energi sekaligus mendukung pengembangan transportasi umum.
"Menurut kami, beroperasinya bus listrik ini merupakan langkah yang baik," ujar Electric Mobility Program Lead WRI Indonesia, Arya Putra, saat diwawancarai Selasa (25/8/2026).
Lebih lanjut, Arya menuturkan beroperasinya bus ini dapat memperkuat layanan transportasi umum perkotaan. Dengan bertambahnya armada, waktu tunggu atau headway Trans Sarbagita berpotensi dikurangi sehingga kualitas layanan kepada masyarakat dapat meningkat.
Penggunaan bus listrik juga diyakini mampu mengurangi emisi, terutama apabila sumber energi listriknya berasal dari energi baru terbarukan (EBT).
"Hal ini selaras dengan target Rencana Aksi Daerah Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) yang sebelumnya juga telah didorong oleh WRI Indonesia sebagai mitra pembangunan Provinsi Bali, serta menjadi bagian dari strategi penerapan teknologi rendah karbon di Bali," imbuh Arya.
Selain dinilai efektif mengurangi emisi dan mendorong masyarakat beralih ke transportasi umum, kelebihan dari sisi operasional adalah biaya energi listrik yang berpotensi lebih hemat hingga 65% dibandingkan bus diesel.
Penghematan ini bahkan bisa lebih besar apabila dibandingkan dengan bus yang menggunakan bahan bakar minyak non-subsidi. Elektrifikasi juga mendukung pengembangan ekosistem teknologi rendah karbon guna mewujudkan visi Bali Emisi Nol Bersih 2045.
"Kehadiran bus listrik dapat menjadi langkah awal dalam penerapan teknologi rendah karbon pada koridor-koridor utama transportasi umum, yang ke depannya dapat memicu pengembangan layanan pengumpan atau feeder yang lebih luas untuk mendukung mobilitas berkelanjutan di Bali," jelasnya.
Bus listrik yang akan datang tersebut diklaim sudah disesuaikan dengan kondisi jalan raya di Bali. Mengingat ada beberapa ruas jalan di Bali yang lebarnya kurang memadai untuk bus berukuran besar, pemilihan spesifikasi armada memang perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing koridor.
Arya mencontohkan, untuk ruas jalan perkotaan yang lebih sempit, dapat digunakan layanan feeder dengan spesifikasi minibus.
Isu kontur jalan juga tidak menjadi kendala utama mengingat teknologi bus listrik kini sudah berkembang dan diterapkan di berbagai wilayah di Indonesia. "Seperti Jakarta dan Medan," imbuhnya.
Berdasarkan catatan WRI, uji coba bus listrik di Bali sebelumnya pernah dilakukan pada KTT G20 tahun 2022 menggunakan armada bus produksi INKA, yang kemudian dioperasikan di Bandung dan Surabaya setelah acara selesai.
Selain itu, pada ajang Bali Climate Week (BCW) atau Pekan Iklim Bali 2025, uji coba bus listrik dari Kalista juga sempat dilakukan di Koridor 6 (Sentra Parkir Kuta–Nusa Dua) oleh ITDC.
Kendati demikian, WRI tetap meminta adanya peningkatan sarana dan prasarana transportasi umum, terutama terkait fasilitas pengisian daya listrik.
"Secara operasional, Bali sudah memiliki beberapa infrastruktur pendukung sehingga bus listrik dapat dioperasikan. Namun, dengan meningkatnya skala penggunaan bus listrik, ketersediaan dan kapasitas infrastruktur pengisian daya juga perlu diperhatikan," tandasnya.***
Editor : M.RidwanSumber : radarbali.jawapos.com