DENPASAR, radarbali.jawapos.com —Musibah yang menimpa Desa Sade di Lombok, Nusa Tenggara Barat, menjadi pelajaran berharga bagi Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Bali untuk lebih menjaga keamanan desa wisata.
Pengelola desa wisata diminta meningkatkan kewaspadaan guna mencegah terjadinya musibah kebakaran, terlebih di tengah musim kemarau panjang yang disertai angin kencang.
Berdasarkan catatan Dinas Pariwisata Provinsi Bali, terdapat 246 desa wisata yang tersebar di sembilan kabupaten dan kota.
Berdasarkan kategorinya, sebanyak 126 desa atau 51,22 persen masuk kategori berkembang, 92 desa atau 37,40 persen kategori rintisan, 24 desa atau 9,76 persen kategori maju, serta 4 desa atau 1,63 persen kategori mandiri.
Dominasi keberadaan desa wisata di Bali saat ini dipegang oleh kategori berkembang dan rintisan yang mencakup sekitar 88 persen dari total keseluruhan.
Sementara itu, kelompok dengan tingkat pengelolaan terbaik tercatat pada 24 desa kategori maju, serta 4 desa yang telah berhasil mencapai tingkatan tertinggi sebagai desa wisata mandiri.
Dalam menjaga keberlangsungan desa wisata, faktor keamanan dan keselamatan masyarakat menjadi fondasi utama.
Kadispar Bali Wayan Sumarajaya menyatakan, kewaspadaan terhadap bencana sudah secara rutin di pertemuan-pertemuan sudah dibahas.
Mitigasi bencana sangat penting karena jaminan keamanan merupakan hal utama dalam menjaga reputasi dan keberlanjutan sektor pariwisata di Bali.
"Keamanan dan kenyamanan hal yang sangat penting untuk keberlanjutan pariwisata yang berkualitas," tegasnya.
Menindaklanjuti hal tersebut, Dispar Bali berharap seluruh pengelola desa wisata dapat melakukan mitigasi bencana secara optimal dengan meningkatkan kesiapsiagaan mandiri, mengidentifikasi area rawan kebakaran, serta memastikan ketersediaan sarana mitigasi awal di masing-masing wilayah.***
Editor : M.RidwanSumber : radarbali.jawapos.com