Erupsi Anak Krakatau Tutup Penerbangan Soetta, Pariwisata Bali Waspadai Dampak Transit dan Overstay

Ida Bagus Indra Prasetia • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 06:16 WIB
TERIMBAS : Suasana aktivitas penerbangan di Bandara Indternasional I Gusti Ngurah Rai, Tuban, Badung. (foto: Miftahuddin/Radar Bali)
TERIMBAS : Suasana aktivitas penerbangan di Bandara Indternasional I Gusti Ngurah Rai, Tuban, Badung. (foto: Miftahuddin/Radar Bali)

GIANYAR, Radar Bali.id – Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Senin, 7/9/2026 memperpanjang penghentian operasional penerbangan hingga pukul 18.00 WIB.

Penutupan sementara bandara yang berlokasi di Tangerang, Banten, tersebut dipicu meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dan dikhawatirkan berdampak langsung terhadap mobilisasi wisatawan menuju Bali.

Baca Juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau Berdampak pada Pembatalan 42 Penerbangan di Bandara Ngurah Rai 

Gangguan penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta tidak hanya berpotensi memengaruhi wisatawan domestik, tetapi juga wisatawan mancanegara yang menjadikan Jakarta sebagai titik transit sebelum melanjutkan perjalanan ke Bali maupun saat akan keluar dari Indonesia.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, 69, alias Cok Ace, menyampaikan bahwa penutupan Bandara Soekarno-Hatta memengaruhi arus pergerakan penumpang secara riil.

”Penutupan ini akan berdampak langsung kepada mobilisasi penumpang, termasuk pariwisata yang akan ke Bali, khususnya yang domestik menggunakan rute Soetta ke Bali dan juga bagi wisatawan yang transit di Jakarta,” ujar Cok Ace pada Senin, 7/9/2026.

Menurut mantan Wakil Gubernur Bali ini, langkah mitigasi dan pengalihan penerbangan diperlukan apabila gangguan operasional berlangsung lebih lama. Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan adalah mengarahkan penerbangan melalui bandara alternatif.

Selain wisatawan yang hendak masuk ke Bali, dampak penutupan bandara juga perlu diantisipasi terhadap wisatawan mancanegara yang akan meninggalkan Indonesia.

”Persoalannya tidak sesederhana itu. Penutupan bandara juga berdampak terhadap wisatawan yang akan meninggalkan Indonesia, termasuk persoalan perizinan. Apakah dia tidak overstay gara-gara delay berangkatnya, bagaimana pembiayaannya dan lain sebagainya,” paparnya.

Ia mengingatkan, persoalan gangguan aviasi akibat bencana alam bukan hal baru bagi sektor pariwisata Bali. Pengalaman saat erupsi Gunung Agung menjadi pelajaran berharga bagaimana gangguan penerbangan dapat menimbulkan dampak lanjutan terhadap wisatawan dan industri pariwisata secara keseluruhan.

Di sisi lain, pasar wisatawan mancanegara ke Bali secara umum masih menunjukkan tren positif. Pasar utama seperti Australia dan India tetap mendominasi, sementara kunjungan wisatawan asal Tiongkok mulai beranjak naik.

”Namun demikian, dari tren jumlah kunjungan ke Bali secara keseluruhan masih menunjukkan angka positif pada bulan yang sama tahun 2025 dibandingkan 2026,” ungkapnya.

Meski demikian, jika dibandingkan secara keseluruhan pada triwulan kedua, kunjungan wisatawan ke Bali masih mengalami penurunan sekitar dua persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025.[*]

Editor : Hari Puspita
Sumber : Radar Bali
erupsi gunung anak krakatau letusan anak krakatau jadwal penerbangan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai pariwisata