225 Peristiwa Kebakaran Bangunan dan 44 Kejadian Lahan dan Hutan Sepanjang 2026

Ni Kadek Novi Febriani • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 04:56 WIB
SISA PUING: Kebakaran bedeng dan lahan kosong di jalan Nakula Denpasar yang dianggap sebagai kebakaran terbesar di Bali hinga September 2026. (ADRIAN SUWANTO/radarbali.id)
SISA PUING: Kebakaran bedeng dan lahan kosong di jalan Nakula Denpasar yang dianggap sebagai kebakaran terbesar di Bali hinga September 2026. (ADRIAN SUWANTO/radarbali.id)

 

DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali mencatat kejadian kebakaran bangunan gedung di Bali selama periode 1 Januari hingga 9 September 2026 sebanyak 225 kejadian. 

Kerugian yang ditaksir karena  kerusakan mencapai sekitar Rp11.699.550.000.

​Kepala UPTD Pengendalian Bencana Daerah BPBD Bali, Wayan Suryawan, mengatakan  akibat kebakaran tersebut merusak 319 unit bangunan.

Berdasarkan wilayah, kebakaran gedung dan permukiman paling banyak terjadi di Buleleng dengan 66 kejadian, Denpasar 45 kejadian, Badung 41 kejadian, Karangasem 21 kejadian, Jembrana 14 kejadian, Klungkung 13 kejadian, Bangli 12 kejadian, Gianyar 8 kejadian, dan Tabanan 5 kejadian. "Total meninggal dunia 3 orang dan luka 7 orang," jelasnya kemarin (10/9/2026). 

​Disinggung mengenai fenomena kebakaran yang marak ini, BPBD Provinsi Bali meminta agar hal tersebut menjadi perhatian khusus. Berdasarkan perkembangan cuaca dan informasi dari BMKG, musim kemarau tahun 2026 diperkirakan berlangsung lebih panjang, lebih kering, dan dengan suhu yang relatif lebih tinggi dibandingkan kondisi normal di sejumlah wilayah.

Dari perspektif kebencanaan, kondisi tersebut berdampak pada peningkatan potensi kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta kebakaran pemukiman.

​Tercatat sebanyak 44 kejadian kebakaran hutan dan lahan dengan total luas 196,68 hektare. Lahan yang paling luas terbakar di  Buleleng seluas 159,07 hektare kebakaran hutan; Klungkung di Kecamatan Nusa Penida seluas 15 hektare kebakaran hutan dan Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, seluas 2 hektare lahan kosong; Karangasem di Kecamatan Kubu seluas 6,63 hektare lahan pertanian dan lahan kosong, serta Kecamatan Abang seluas 2,10 hektare lahan kosong; Jembrana seluas 8,05 hektare kebakaran lahan kosong; serta Bangli di Kecamatan Kintamani seluas 3,83 hektare kebakaran hutan.

​Suryawan melanjutkan, terdapat pula kebakaran TPA atau TPST di beberapa lokasi yang menjadi perhatian dalam pemantauan, yaitu TPST 3R Culik, Kecamatan Abang, Karangasem, dengan area terdampak sekitar 10 are; TPST 3R Tejakula, Buleleng; dan TPA Suwung Jalan Bypass Ngurah Rai, Desa Sidakarya, Kecamatan Denpasar Selatan, dengan area terdampak sekitar 2 are.

​Meningkatnya kejadian kebakaran di sejumlah wilayah dan fenomena iklim ekstrem yang menyebabkan kondisi lingkungan di beberapa wilayah menjadi lebih kering menuntut kita untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan kapasitas.

Masyarakat diimbau agar selalu waspada dalam berkegiatan yang berpotensi menimbulkan kebakaran. 

Suryawan meminta untuk selalu melakukan perawatan berkala pada jaringan listrik. Kemudian,  menghindari penggunaan colokan atau kabel yang menumpuk serta tidak terstandar. 

Diharapkan juha untuk memperhatikan pengelolaan bahan mudah terbakar, serta menghindari pembuatan api pada lahan yang mudah terbakar. 

"Sebagai upaya kesiapsiagaan, dapat menyediakan alat pemadam api ringan pada pemukiman dan fasilitas publik lainnya," ujar Suryawan. 

​Disinggung mengenai fenomena El Nino, menurut Suryawan, peningkatan kebakaran tidak sepenuhnya disebabkan oleh El Nino, terutama yang terjadi di gedung dan permukiman.

Namun, El Nino bisa menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran karena kondisi lingkungan menjadi lebih kering.

"Jadi, El Nino bisa sebagai faktor yang meningkatkan kerawanan, bukan sebagai penyebab tunggal dari seluruh kejadian kebakaran," tandasnya.***

Editor : M.Ridwan
Sumber : radarbali.jawapos.com
lahan dan hutan BPBD Bali kebakaran penanggulangan bencana