Ulah Nakal Sopir Truk Sampah Mengelabui Pengawas TPA:Modus Campuran Demi Lolos

Marsellus Pampur • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 19:53 WIB
INGATKAN KERUSAKAN LINGKUNGAN: Catur Yuda Hariani, Direktur Yayasan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali pada kegiatan workshop perubahan iklim yang digelar oleh Koalisi Bali Emisi Nol Bersih di Denpasar, Selasa (29/9/2026). (foto:Marsellus Pampur)
INGATKAN KERUSAKAN LINGKUNGAN: Catur Yuda Hariani, Direktur Yayasan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali pada kegiatan workshop perubahan iklim yang digelar oleh Koalisi Bali Emisi Nol Bersih di Denpasar, Selasa (29/9/2026). (foto:Marsellus Pampur)

DENPASAR, RadarBali.id - Kendati pemerintah telah menetapkan jadwal khusus pemilahan, praktik kejahatan lingkungan rupanya masih marak terjadi di tempat pemrosesan akhir (TPA) Suwung, Denpasar.

Baca Juga: Pemkot Denpasar Gandeng BWC dan Pepsico, Kelola Sampah Kemasan untuk Fasilitas Publik

Banyak armada truk pengangkut sampah nekad membuang sampah tanpa dipilah dengan cara mengelabuhi petugas pengawas di lapangan.

Modus operandi yang digunakan cukup cerdik. Para petugas atau driver menumpuk sampah organik di bagian atas atau luar, sementara sampah anorganik disembunyikan di bagian tengah maupun dasar bak truk. Hal serupa juga berlaku sebaliknya ketika jadwal pembuangan anorganik tiba.

Fenomena ini diungkapkan langsung oleh Direktur Yayasan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali, Catur Yuda Hariani, saat ditemui dalam kegiatan workshop perubahan iklim yang digelar Koalisi Bali Emisi Nol Bersih di Denpasar, Selasa (29/9/2026).

”Jadi, Hari Senin dan Kamis itu sejatinya jadwal truk pengangkut untuk sampah organik. Tapi sampai saat ini masih ada beberapa pelanggan TPA, baik dari swakelola maupun TPS3R, membawa sampah tercampur. Biasanya kamuflase, bagian atas ditaruh organik, ternyata bawahnya masih tercampur,” tegas Hariani kepada awak media.

Saat dikonfirmasi mengenai temuan tersebut, para sopir pengangkut sampah kerap melemparkan alasan klise. Mereka beralasan tidak memiliki fasilitas pemilahan yang memadai hingga menuding masyarakat di tingkat rumah tangga belum memilah sampah sebelum diangkut.

”Kalau kita tanya, alasannya tidak ada fasilitas pemilahan dan masyarakat belum memilah. Makanya mereka tetap membuang ke TPA dengan cara tercampur dan dikamuflase agar lolos,” lanjutnya.

Hariani tak menampik bahwa TPA Suwung sebenarnya sudah menyiagakan petugas pengawas. Namun, keterbatasan fisik manusia membuat proses pemeriksaan muatan truk berkapasitas 1 hingga 3 ton tersebut tidak bisa maksimal sampai ke dasar bak. Hal ini membuat pengawasan kerap kecolongan.

Kondisi tercampurnya sampah organik dan anorganik yang terus masuk ke TPA Suwung ini memicu ancaman serius. Pembusukan sampah organik yang bercampur anorganik memicu lonjakan konsentrasi gas metan yang sangat tinggi, sehingga berisiko besar memicu potensi kebakaran hebat di kawasan TPA.

”Metan akan sangat tinggi. Harapannya sampah organik tidak lagi masuk ke TPA karena memicu metan. Kalau bercampur dengan anorganik, pembentukan gas metan jauh lebih cepat dan berbahaya,” pungkasnya.[*]

Editor : Hari Puspita
Sumber : Radar Bali
pengelolaan sampah lingkungan bersih tpa suwung sampah residu pemilahan sampah