Badung,Gianyar, Bidik Green Building di Bali, Begini Jurus Bangunan Gedung Ramah Lingkungan

Marsellus Pampur • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 03:01 WIB
BEBERKAN GREEN BUILDING: Ketua Green Building Council Indonesia (GBCI) Bali, Ari Setiya Wibawa. (foto: Marsellus Pampur)
BEBERKAN GREEN BUILDING: Ketua Green Building Council Indonesia (GBCI) Bali, Ari Setiya Wibawa. (foto: Marsellus Pampur)

DENPASAR, Radar Bali.id - Kesadaran mewujudkan pembangunan ramah lingkungan di Provinsi Bali terus menunjukkan tren positif.

Baca Juga: Dari Indonesia Green Building Festival: Konsep Green Building Diklaim Lebih Hemat 

Kabupaten Gianyar dan Kabupaten Badung kini menjadi dua wilayah terdepan yang paling masif menerapkan konsep green building (bangunan gedung hijau).

Ketua Green Building Council Indonesia (GBCI) Bali, Ari Setiya Wibawa, menyebutkan bahwa kedua kabupaten tersebut memiliki porsi seimbang dalam mengadopsi standar gedung hijau, baik pada fasilitas milik pemerintah maupun sektor swasta.

Baca Juga: Topping Off Green Building BSI di Aceh Rampung & Akan diresmikan Awal Tahun 2024

”Ada enam daerah yang kami berikan penghargaan, tapi yang paling dominan dan bersaing ketat memang Badung dan Gianyar. Di Badung didominasi sektor swasta, sedangkan Gianyar banyak pada bangunan pemerintahan,” ungkap Ari Setiya Wibawa di sela-sela acara Indonesia Green Building Festival yang digelar di Auditorium Fakultas Teknik Universitas Warmadewa, Denpasar, Sabtu (26/9/2026).

Untuk mempercepat perluasan konsep pembangunan hijau ke depan, GBCI Bali bergerak aktif menjalin kolaborasi strategis dengan pemerintah daerah, para ahli pertukangan, asosiasi profesi, hingga lembaga pendidikan tinggi agar regulasi dan kurikulum hijau dapat diterapkan secara meluas.

Ari menepis anggapan lama bahwa membangun gedung berkonsep green building membutuhkan biaya yang sangat mahal. Menurutnya, inovasi material bangunan ramah lingkungan saat ini sudah sangat beragam dan terjangkau di pasaran.

”Mungkin lima tahun lalu masih mahal dengan kenaikan biaya mencapai 30 persen. Tapi sekarang dengan banyaknya alternatif material, estimasi kenaikan biayanya paling hanya sekitar 10 persen. Walau ada selisih lebih mahal 10 persen, break even point (BEP) atau balik modalku jauh lebih cepat karena operasional penggunaan listrik dan AC jauh lebih efisien,” paparnya.

Lebih lanjut, Ari menekankan bahwa esensi green building tidak sebatas pada estetika fisik bangunan yang dipenuhi tanaman rindang, melainkan menyangkut perubahan perilaku (habit) para penghuninya dalam menghemat daya energi listrik dan penggunaan air secara bijak.[*]

Editor : Hari Puspita
Sumber : Radar Bali
green building penghijauan pelestarian lingkungan ruang terbuka hijau ramah lingkungan