Menuju Net Zero Emission 2045, Bali Siapkan SDM Lokal dan Kurikulum Vokasi Energi Terbarukan

Tim Redaksi • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:41 WIB
ENERGI HIJAU: Ketua Umum PKET, Sim Budiman Setiawan dalam Bali Climate Week 2026 ini diusung melalui Proyek Kerja Sama Indonesia-Jerman  Kamis (15/10/2026). (ist/radarbali.id)
ENERGI HIJAU: Ketua Umum PKET, Sim Budiman Setiawan dalam Bali Climate Week 2026 ini diusung melalui Proyek Kerja Sama Indonesia-Jerman Kamis (15/10/2026). (ist/radarbali.id)

 

SANUR, radarbali.jawapos.com — Upaya mempercepat target Bali Net Zero Emission (NZE) 2045 dan pemanfaatan 100% energi terbarukan di Nusa Penida pada 2030, Kementerian PPN/Bappenas bersama Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH menyelenggarakan gelaran Satu Hari Energi Bersih (SHEB) 2026 di Mercure Hotel Sanur, Kamis (15/10/2026).

Acara yang menjadi bagian dari rangkaian Bali Climate Week 2026 ini diusung melalui Proyek Kerja Sama Indonesia-Jerman Green Jobs for Social Inclusion and Sustainable Transformation (GESIT) serta didukung oleh Pusat Keterampilan Energi Terbarukan (PKET). Focus utamanya: menyiapkan sumber daya manusia (SDM) lokal dan memperkuat ekosistem green jobs (pekerjaan hijau) agar transisi energi memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat Bali, khususnya generasi muda.

Tantangan Tenaga Kerja Lokal dan Transformasi Vokasi

Transisi menuju energi bersih di Nusa Penida tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga kesiapan tenaga ahli di tingkat lokal. Saat ini, pilihan pendidikan dan jalur karier energi terbarukan di Nusa Penida masih terbatas. Sebagai contoh, program keahlian di SMKN 1 Nusa Penida masih didominasi sektor pariwisata, sementara tenaga teknis kelistrikan yang ada masih membutuhkan sertifikasi sesuai standar industri.

Ketua Umum PKET, Sim Budiman Setiawan, menegaskan pentingnya keterlibatan SDM lokal dalam transisi energi ini.

"Transisi energi tidak hanya soal teknologi, tetapi juga tentang manusia. Jika kita ingin Nusa Penida 100% beralih ke energi terbarukan, kita tidak bisa terus-menerus mendatangkan teknisi dari luar daerah. Tenaga kerja lokal, khususnya generasi muda Bali, harus menjadi aktor utama dan penerima manfaat terbesar," ujar Sim Budiman.

Sebagai solusi, GESIT bersama PKET mengawal integrasi kurikulum energi terbarukan di 5 SMK percontohan di Bali.

Langkah ini dilakukan melalui penguatan mata pelajaran pilihan dalam Kurikulum Merdeka, kegiatan ekstrakurikuler, fasilitas praktik standar industri, hingga program guru tamu dari praktisi energi.

 

From Learning to Living

Mengusung tema “From Learning to Living”, SHEB 2026 menghadirkan rangkaian acara interaktif untuk mengenalkan peluang karier green jobs kepada generasi muda Bali. Rangkaian kegiatan tersebut meliputi:

Rekomendasi Strategis lewat Policy Room

SHEB 2026 juga menghadirkan sesi strategis Policy Room (Ruang Kebijakan) yang mempertemukan pemerintah, lembaga pendidikan, serta asosiasi industri seperti AESI, AEAI, MEBI, dan APPLTA.

Sebelumnya, Tim Penguatan Peran Masyarakat dan Pemangku Kepentingan (yang dibentuk melalui Keputusan Gubernur Bali Nomor 494/03-M/HK/2026) telah merumuskan 4 rekomendasi utama:

1.  Regulasi Daerah: Mendorong keterlibatan dan pemberdayaan tenaga kerja lokal pada proyek energi terbarukan.

2.  Integrasi Kurikulum & Magang: Penguatan pembelajaran energi terbarukan di SMK serta program magang industri terstruktur.

3.  Sertifikasi SDM: Peningkatan kompetensi dan sertifikasi bagi guru SMK maupun calon tenaga kerja melalui kerja sama industri.

4.  Bursa Kerja Hijau: Pengembangan Green Jobs Portal untuk menghubungkan tenaga kerja terampil dengan peluang kerja di sektor energi bersih.

Melalui sinergi antara Bappenas, GIZ, PKET, Pemerintah Provinsi Bali, serta pelaku industri, kegiatan ini diharapkan menjadi pijakan kokoh dalam menjembatani dunia pendidikan dengan kebutuhan lapangan kerja masa depan.***

Editor : M.Ridwan
Sumber : radarbali.jawapos.com
Net Zero Emission energi bersih nusa penida bali