DENPASAR,radarbali.id -Lazimnya, menyambut Hari Pengerupukan, masing-masing Sekaa Teruna Teruni (STT) di Bali berkreasi membuat ogoh-ogoh. Namun tidak halnya dengan STT yang ada di Desa Adat Renon, Denpasar.
Sekadar diketahui, Desa Adat Renon memang dilarang untuk membuat ogoh-ogoh sejak tahun 1990-an karena kejadian di masa lalu. Oleh karenanya, Karang Taruna Dharma Bakti Kelurahan Renon akhirnya mengeluarkan inovasi baru untuk menuangkan kreativitas pemuda melalui Lomba Penjor.
"Di mana kita tahu bahwa di sela-sela Pengerupukan itu kurangnya ada kreativitas dari STT di seluruh Desa Adat Renon. Jadinya kami dari karang taruna ingin membuatkan kegiatan baru untuk STT masing-masing, yaitu lomba penjor," kata Pengurus Karang Taruna Dharma Bakti Kelurahan Renon, Made Oka Mahendra, Jumat (8/3/2024).
Baca Juga: Laga Kandang Dibawah Guyuran Hujan, Bali United Bungkam PSIS, Naik Lagi di Peringkat 3 Klasemen Sementara
Lomba ini pun disambut antusias oleh STT dan sudah sukses diselenggarakan pertama kali pada tahun 2023 lalu, dengan mengambil tema penggunaan bahan alami. Seperti halnya menggunakan busung dan tidak memakai bahan-bahan sintetis.
Masyarakat maupun STT turut memberikan pendapat-pendapat yang positif hingga akhirnya lomba penjor bisa diselenggarakan kembali.
"Sebenarnya tujuan penjor ini bukan untuk keren-kerenan, tapi kami juga melihat momen pada saat Pengerupukan atau menjelang Pengerupukan itu kan ada sesi seperti Melasti. Sesuunan atau duwe-duwe yang ada di pura seluruh Desa Adat Renon itu melinggih di Pura Bale Agung. Jadi kami bermaksud menghaturkan penjor ini kepada pura," terangnya.
Baca Juga: Empat Cabor Gagal Naik Kelas Dipertandingkan di Porprov 2025, Simak Daftarnya!
Adapun pemasangan penjor sudah dilakukan pada Kamis (7/3) mulai pukul 16.00 WITA. Selanjutnya yakni sesi penjurian yang dilakukan kemarin (8/3).
Dengan mengangkat tema 'Dewata Nawa Sanga' atau sembilan dewa penjuru mata angin, pihaknya membebaskan masing-masing STT untuk berkreasi dan menggunakan bahan ogoh-ogoh.
Salah satunya dari Banjar Kelod yang mengambil tema Dewa Sambu yang identik dengan warna biru. Sehingga penjor yang dibuat secara keseluruhan menggunakan warna biru. Ada juga STT yang menambahkan unsur robotik pada karya penjornya.
"Teman-teman STT kreativitasnya tinggi sekali. Jadi kami tidak menuntut adanya robotik, tapi teman-teman STT yang lain berkreasi menggunakan apapun (untuk bahan penjornya, red)," kata Oka.
Baca Juga: Televisi dan Internet Dimatikan, Telepon dan SMS tetap Terlayani, Begini Aturan Taraweh Bagi Umat Islam
Penilaian penjor akan mencakup unsur komposisi, kerapian, inovasi, dan kreativitas. Pemenangnya akan diumumkan pada gelaran Renon Creative Festival, yaitu saat Pengerupukan tanggal (10/3) mendatang.
Meskipun tidak membuat ogoh-ogoh, Renon Creative Festival ini menjadi wadah para pemuda untuk menunjukkan pagelaran seni di titik kumpul depan Pura Bale Agung. Setelahnya, barulah ada pengumumuan dari lomba penjor. STT yang menyabet gelar juara akan mendapatkan uang, plakat, dan piagam.
"(Melalui, red) lomba penjor ini, saya mengaharapakan banyak kreativitas yang mungkin bisa menggantikan pembuatan ogoh-ogoh. Jadinya kita buat penjor yang ada di Renon," paparnya.***