BANGLI, RadarBali.id – Wilayah Kecamatan Kintamani kembali menghadapi fenomena tahunan "musim lalat" yang terjadi setiap menjelang musim hujan, khususnya pada periode Desember hingga Januari.
Jutaan lalat (Diptera) dilaporkan menyerbu kawasan tersebut, memicu keluhan dari warga hingga pelaku pariwisata.
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli, I Wayan Sarma, mengungkapkan bahwa fenomena ini dipicu oleh penggunaan limbah ternak, terutama kotoran ayam pedaging, sebagai pupuk tanpa proses fermentasi.
"Petani cenderung langsung menabur kotoran ternak ke lahan karena proses fermentasi memakan waktu, tenaga, dan biaya lebih besar. Inilah yang mengundang lalat dalam jumlah besar," ujar Sarma, Senin (5/1/2026).
Sarma menjelaskan bahwa 70 persen pertanian Bangli berpusat di Kintamani dengan karakteristik lahan kering yang memerlukan pemupukan intensif hingga dua kali setahun. Meski pemerintah telah memfasilitasi pupuk organik bersubsidi dan memberikan edukasi, ketergantungan petani pada limbah ternak mentah masih tinggi demi menjaga produktivitas sayuran, bawang, dan cabai yang memasok pasar-pasar besar di Bali. [*]
Editor : Hari Puspita