Seratus tahun setelah peristiwa lahar panas Gunung Batur pada 1926, masyarakat Desa Adat Batur bersiap menghidupkan kembali memori kolektif leluhur mereka. Sebagai rangkaian peringatan Seratus Tahun Rarud Batur, sebuah penanda (Cihna) Titik Nol Batur Let resmi dibangun, diawali dengan upacara Ngeruwak pada Senin (4/5/2026).
TITIK nol ini bukanlah lokasi biasa. Kawasan yang terletak di barat daya Gunung Batur, Bangli, ini dulunya merupakan jantung peradaban, tepatnya lokasi eks Meru Tumpang Solas Pura Ulun Danu Batur sebelum letusan dahsyat seabad silam.
Baca Juga: Pendapatan Retribusi Kintamani Merosot Drastis, Jalur "Tikus" Jadi Biang Keladi
Proses Penentuan Lokasi yang Unik:
- Metode Ilmiah: Menggunakan data dokumentasi foto lama dari zaman kolonial Belanda.
- Pendekatan Spiritual: Memastikan keaslian lokasi melalui nalar budaya dan keyakinan masyarakat setempat.
Pamucuk Desa Adat Batur, Jero Gede Duhuran Batur, menegaskan bahwa bangunan yang didirikan berupa palinggih padmasana dan bebaturan ini berfungsi sebagai media edukasi sejarah, bukan untuk membangun kembali pura dalam bentuk aslinya.
"Ini adalah penanda bahwa leluhur Batur pernah membangun peradaban agung di sana sebelum akhirnya 'diambil' oleh lahar seratus tahun lalu," ungkap sosok yang juga Pangemong Pura Ulun Danu Batur tersebut.
Puncak peringatan Seratus Tahun Rarud Batur sendiri dijadwalkan berlangsung pada 2-8 Agustus 2026 mendatang dengan fokus pada pelestarian lingkungan dan pemajuan kebudayaan.[*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali