KINTAMANI, Radar Bali.id – Ruas Jalan Yudistira di Desa Bayung Gede, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, kini menjadi sorotan.
Jalan yang belum lama selesai diaspal total tersebut sudah mengalami kerusakan di sejumlah titik. Melintasnya truk melebihi muatan diduga kuat menjadi biang kerok hancurnya fasilitas publik yang sebenarnya masih dalam masa pemeliharaan tersebut.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Selasa 2/6/2026, kerusakan berupa bergesernya lapisan aspal baru dari atas aspal lama. Kondisi ini membentuk rekahan-rekahan, baik skala kecil hingga besar yang sangat membahayakan para pengendara.
Sedikitnya terpantau ada lebih dari lima titik kerusakan serupa. Selain itu, terlihat pula bagian jalan tanpa garis putih yang tampak seperti bekas perbaikan atau pengaspalan ulang secara darurat.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP) Kabupaten Bangli, Dewa Agung Putra Suryadarma, 53, saat dikonfirmasi pada Selasa (2/6/2026) pukul 10.00 Wita, mengungkapkan bahwa kerusakan dipicu oleh padatnya frekuensi truk bertonase besar yang melintas.
Padahal, jalan tersebut dirancang dengan kapasitas maksimal hanya 8 ton.
”Sudah ada rambu di ujung jalan bahwa kendaraan truk bermuat material dilarang melintas,” terangnya.
Dewa Agung menambahkan, karena proyek ini masih dalam masa pemeliharaan, seluruh biaya perbaikan akan dibebankan kepada pihak rekanan. ”Dari pihak pelaksana siap untuk memperbaiki kembali. Kami juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk penertiban jalur tersebut,” ujarnya.
Di sisi lain, Perbekel Bayung Gede, I Wayan Suarjaya, 45, memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, kerusakan bukan semata-mata karena truk bermuatan berat, melainkan karena kualitas aspal yang digunakan tidak merekat dengan sempurna.
Menurut Suarjaya, jika beban muatan yang menjadi alasan, semestinya kerusakan hanya terjadi pada jalur tanjakan. Kenyataannya, retakan juga ditemukan pada jalur datar.
”Sudah diperbaiki sampai 3 kali oleh rekanan, tapi kembali lagi terjadi retakan,” ungkap Suarjaya.
Ia sangat berharap perbaikan kali ini dilakukan secara maksimal. Mengingat, ruas jalan ini merupakan salah satu pintu masuk utama menuju destinasi wisata di Kintamani. Akibat kondisi jalan yang labil, tidak sedikit pengendara dari luar daerah yang mengalami kecelakaan di lokasi tersebut.
”Kalau warga kami yang biasa melintas di sini tentu sudah tahu medannya, jadi bisa lebih berhati-hati. Sementara orang luar tidak tahu kondisinya. Apalagi pas masuk terlihat jalannya baru habis diaspal mulus, dikira sampai ujung kondisinya sama baiknya,” tandasnya.[*]
Editor : Hari Puspita