KINTAMANI, Radar Bali.id - Sektor pariwisata dan pertanian selama ini menjadi dua motor penggerak utama sekaligus sumber pendapatan terbesar bagi warga di wilayah Kecamatan Kintamani, Bangli.
Baca Juga: Serbuan Jutaan Lalat di Kintamani Bangli, Bahaya Pupuk Kandang Mentah, Krisis Sanitasi dan Agronomi?
Namun, belakangan ini kedua sektor unggulan tersebut justru saling berbenturan. Pemicunya adalah penggunaan kotoran ternak atau limbah mentah sebagai pupuk penyubur tanaman oleh para petani, yang memicu kedatangan kerumunan lalat dalam jumlah masif.
Imbasnya, kenyamanan sektor pariwisata pun menjadi terganggu dan tidak kondusif.
Persoalan klasik ini tampaknya belum menemui titik terang yang konkret hingga saat ini. Pasalnya, para petani setempat masih memegang keyakinan kuat bahwa kotoran ternak atau limbah mentah jauh lebih manjur dalam memberikan hasil panen pertanian yang maksimal dan cepat dibandingkan pupuk jenis lain.
Melihat situasi yang kian pelik, instansi terkait akhirnya berinisiatif menggelar Focus Group Discussion (FGD) atau diskusi kelompok terarah hingga beberapa kali.
Langkah ini dilakukan untuk merumuskan formula-formula solutif yang bisa diterima oleh para petani untuk mengatasi fenomena serbuan lalat tersebut. Targetnya, produktivitas pertanian tetap berjalan maksimal tanpa harus mengorbankan kenyamanan sektor pariwisata.
”Di Kintamani ini, pertanian dan pariwisata sama-sama kuat. Untuk itu harus segera dicarikan solusi. Kalau kami hanya mengutamakan pertanian, bagaimana dengan sektor pariwisatanya? Kalau hanya murni pariwisata, terus sektor pertanian yang menjadi sektor unggulan kami dikemanakan lagi,” ujar Wakil Bupati Bangli, I Wayan Diar, saat memberikan pandangannya.
Pemerintah daerah mengakui tidak heran jika proses pencarian solusi terbaik atas persoalan ini memakan waktu yang cukup lama. Sebab, ada dua kepentingan masyarakat yang harus diselamatkan bersamaan.
”Karena keinginannya, antara pariwisata dan pertanian ini tumbuh bersama-sama menguntungkan petani dan pelaku pariwisata secara keseluruhan di Kabupaten Bangli,” imbuh I Wayan Diar.
Dalam forum FGD tersebut, muncul sejumlah opsi solusi untuk menjembatani masalah ini. Salah satunya adalah dengan menggencarkan sosialisasi secara masif mengenai dampak buruk serbuan lalat akibat pemanfaatan kotoran ternak yang tidak diolah terlebih dahulu.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga berencana mengambil peran untuk mengolah limbah mentah tersebut menjadi tanah subur yang siap pakai, sehingga petani bisa mendapatkannya dengan mudah dan higienis. ”Ini memang membutuhkan kajian, membutuhkan biaya. Karena kan ada mesin pengolah,” tandasnya.[*]
Editor : Hari Puspita