Danau Batur Diterjang Semburan Belerang, Puluhan Ton Ikan Nila Mati Massal

Dewa Ayu Pitri Arisanti • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 01:11 WIB
Ilustrasi ikan-ikan danau mati karena belerang. (gambar digital gemini/radar bali)
Ilustrasi ikan-ikan danau mati karena belerang. (gambar digital gemini/radar bali)

KINTAMANI, Radar Bali.id – Fenomena tahunan semburan belerang kembali melanda kawasan Danau Batur, Kintamani, Bangli, sejak Senin (20/7/2026) sekitar pukul 03.30 Wita. Dampak fenomena alam ini mulai mengancam keberlangsungan budidaya ikan milik warga setempat.

Baca Juga: Dinas PKP Pastikan Ikan Nila Mati Terpapar Belerang Tak Bisa Dimakan

Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli, I Wayan Agus Wirawan, Selasa (21/7/2026) mengungkapkan, semburan belerang terpantau terjadi di tiga titik lokasi, yakni Desa Kedisan, Buahan, dan Abang Songan, Kecamatan Kintamani.

Baca Juga: FENOMENA ALAM! Belerang Danau Menyembur, Ribuan Ikan Mabuk Lalu Mati

Berdasarkan hasil pengecekan kualitas air danau pada Selasa (21/7/2026), parameter kadar oksigen, keasaman (pH), serta suhu air terpantau tidak memenuhi syarat ideal untuk kehidupan ikan.

Baca Juga: Gunung Agung Erupsi, Warga Terpapar Hujan Abu dan Bau Belerang

”Standarnya kandungan Dissolved Oxygen (DO) atau oksigen terlarut minimal 5 mg per liter, dengan suhu di atas 24 hingga 25 derajat Celsius, serta pH berkisar 5 hingga 8,5. Namun hasil temuan kami di lapangan, DO berada di angka 2,3 mg per liter hingga 2,8 mg per liter. Kondisi ini sangat mengancam kelangsungan hidup ikan di danau,” beber Agus Wirawan.

Rendahnya kadar oksigen dalam air diprediksi memicu kematian ikan dalam jumlah besar. Kendati demikian, pihak dinas belum dapat memastikan akumulasi total tonase ikan yang terdampak lantaran mayoritas pembudidaya memilih tidak mendekati kerambanya. Langkah ini diambil guna menghindari kepanikan ikan yang dapat memicu ikan berenang lebih dalam ke dasar danau dengan kadar oksigen yang sangat minim.

”Terkait laporan 25 ton ikan nila mati, itu merupakan milik salah satu pembudidaya di Banjar Dukuh, Desa Abang Songan atas nama Jero Raksa. Pembudidaya tersebut memiliki 150 petak keramba dan saya menyaksikan sendiri seluruh ikannya mati,” ungkapnya.

Fenomena semburan belerang ini sejatinya merupakan siklus tahunan yang kerap terjadi pada periode Juli hingga September. Umumnya, para pembudidaya telah melakukan panen lebih awal dan mengosongkan keramba sebelum siklus terjadi. Namun, beberapa pembudidaya yang memegang peran sebagai pemasok pasar tetap memelihara stok ikan secara berkala.

Durasi berlangsungnya semburan belerang sangat bergantung pada faktor cuaca lokal. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, fenomena ini dapat bertahan hingga 10 hari.

”Apabila cuaca dingin dan angin kencang berhembus lama, fenomena ini juga akan berlangsung lebih lama. Kami berharap semburan belerang segera berhenti sehingga kerugian yang dialami para pembudidaya tidak semakin membengkak,” tandasnya. [*]

 

Editor : Hari Puspita
Sumber : Radar Bali
ikan keracunan Kintamani Bangli belerang Danau Batur