Saat Warga Desa Adat Batur Menggelar  Napak Tilas 100 Tahun Rarud Batur: Hayati Perjuangan saat Gunung Meletus

Dewa Ayu Pitri Arisanti • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 07:56 WIB
DEMI MENGHAYATI PROSES SPIRITUAL: Warga Desa Adat Batur mengikuti Napak Tilas 100 Tahun Rarud Batur pada Senin (3/8/2026). (foto:Istimewa)

 
DEMI MENGHAYATI PROSES SPIRITUAL: Warga Desa Adat Batur mengikuti Napak Tilas 100 Tahun Rarud Batur pada Senin (3/8/2026). (foto:Istimewa)  

Ribuan warga Desa Adat Batur mengikuti Napak Tilas 100 Tahun Rarud Batur pada Senin (3/8/2026) yang berlangsung khidmat sejak pukul 08.00 hingga 16.00 Wita.

PROSESI napak tilas ini dilaksanakan dengan menyusuri rute evakuasi bersejarah seabad lalu, dimulai dari Purwa Mandala (titik nol) Desa Batur Let, Desa Adat Bayung Gede, dan berakhir di Pura Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur.

Baca Juga: BKSDA Bali dan YBHL Tanam 3.000 Pohon di TWA Gunung Batur, Dorong Konservasi Kawasan Kritis

Warga yang mengikuti prosesi napak tilas membawa panji-panji tempekan (kelompok adat) menyusuri tebing Kaldera I Batur sejak pukul 08.00 Wita. Sekira pukul 11.00 Wita, rombongan sampai di Desa Adat Bayung Gede.

Di sana, masyarakat Batur beristirahat dan dijamu hangat oleh masyarakat Bayung Gede. Peristiwa ini seolah mengulang kembali sejarah seabad lalu, ketika masyarakat Batur mengungsi dan mengamankan benda-benda sakral Pura Ulun Danu Batur di Pura Bale Agung desa setempat.

Bendesa Bayung Gede, Ketut Sukarta, menuturkan bahwa ikatan historis dan spiritual antara kedua desa telah berjalan ratusan tahun dan terekam lekat dalam ingatan masyarakat Desa Bayung Gede. Peristiwa bersejarah itu bahkan diabadikan dalam tradisi pantangan ikatan pernikahan antara warga kedua desa.

Selain itu, Bayung Gede juga diyakini sebagai lumbung beras Ida Bhatari Batur, sehingga setiap tahunnya masyarakat Bayung Gede akan mempersembahkan sarin tahun ke Pura Ulun Danu Batur pada Purnama Kasanga.

”Seratus tahun lalu, ketika Desa Batur terkena erupsi Gunung Batur, duwe-duwe (benda sakral, Red) milik Pura Ulun Danu Batur disetanakan di sini selama dua tahun. Ini adalah bentuk kedekatan secara budaya dan spiritual. Sehingga waktu kejadian Rarud Batur, kami memang sangat dipercaya untuk menyimpan duwe-duwe tersebut,” terangnya.

Sementara itu, Jero Gede Duhuran Batur mengaku sangat terharu dengan digelarnya kegiatan napak tilas ini karena merefleksikan kembali perjuangan berat para leluhur Batur dalam mempertahankan kebudayaannya.

”Napak tilas yang kami laksanakan adalah untuk mengenang semangat leluhur kami seratus tahun lalu akibat peristiwa letusan Gunung Batur tersebut,” ujarnya. [*]

Editor : Hari Puspita
Sumber : Radar Bali
napak tilas gunung batur bangli kintamani spiritual