KINTAMANI, Radar Bali.id – Menurunnya intensitas curah hujan di wilayah Kecamatan Kintamani berdampak serius pada mengecilnya debit air petirtaan.
Bak penampungan berukuran 60 kubik di jantung Desa Siakin, Kecamatan Kintamani, kini tak lagi mampu memenuhi kebutuhan air bersih warga Banjar Siakin.
Baca Juga: Kekeringan Semakin Meluas di Jembrana, 11 Desa Krisis Air Bersih, akhirnya BPBD Opsi Siaga Darurat
”Bak penampung dalam keadaan kosong selama 3 minggu ini. Padahal sebelumnya masih mengalir, dan masalah ini sudah menjadi pembahasan serius dalam musyawarah desa kami,” ujar Perbekel Desa Siakin, I Gede Disi, 44, Kamis (13/8/2026).
Kondisi kritis ini memaksa warga merogoh kocek lebih dalam. Untuk 1 kubik air bersih, warga harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 100 ribu. Padahal, satu keluarga beranggotakan 4 orang rata-rata membutuhkan hingga 4 kubik air setiap bulannya.
Meringankan beban warga, bantuan air bersih sebanyak 20 ribu liter disalurkan atas kolaborasi Korem 163/Wira Satya bersama Warung Serba Sambal pada Rabu (11/8/2026) dan Kamis (12/8/2026). Air disuplai langsung ke bak penampungan desa serta bak sekolah. ”Semasih ada stok airnya, sekarang warga sudah bisa mengambil air di bak penampungan secara gratis,” ungkapnya.
Fenomena kesulitan air bersih saat kemarau ini ternyata merupakan krisis tahunan yang dialami warga Banjar Siakin sejak 2017. Selain memanfaatkan sumber petirtaan sejauh 2,5 kilometer, Pemkab Bangli sebenarnya sempat mengalirkan air dari mata air Sambongan menggunakan pipa. Namun, jalur pipa tersebut kerap rusak akibat ulah oknum tak bertanggung jawab.
Guna mengatasi solusi jangka panjang, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Bangli berencana membangun bak penampungan air baru yang memanfaatkan mata air Sambongan. ”Saat ini sedang dalam proses persiapan pengadaan,” terang Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PUPRPKP Kabupaten Bangli, I Komang Ariana, 46. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali