Tingkat kebocoran jaringan pipa Perumda Air Minum Tirta Danu Arta Bangli pada tahun 2025 tercatat masih cukup tinggi, yakni mencapai 25,80 persen. Usia pipa yang sudah sangat tua menjadi salah satu penyebab utama kebocoran air tersebut.
SEPERTI diungkapkan Kabag Teknis Perumda Air Minum Tirta Danu Arta Bangli, I Wayan Gunawan, Rabu (19/8/2026), dia mengungkapkan, jaringan pipa milik Perumda Air Minum Tirta Danu Arta Bangli sebagian besar memang sudah berusia tua.
Bahkan, ada yang merupakan pipa produksi peninggalan zaman penjajahan Belanda. Bisa dibayangkan, seberapa tua usianya saat ini.
Baca Juga: PDAM Perbaiki Pipa, Pasokan Air ke Hotel dan Perumahan di Nusa Dua Terganggu
”Terutamanya yang berada di wilayah perkotaan. Itu banyak yang pipa berusia tua,” ungkapnya.
Lantaran dimakan usia, kondisi fisik pipa sudah banyak yang mengalami keropos. Uniknya, kebocoran kerap tidak timbul ke permukaan tanah, sehingga baru terdeteksi ketika ada pengaduan dari pelanggan terkait penurunan debit air.
”Kebocoran akhirnya diketahui ketika distribusi air normal namun pelanggan tidak mendapatkan air seperti biasanya,” terangnya.
Meski tingkat kebocoran tergolong tinggi, Perumda Air Minum Tirta Danu Arta Bangli mengaku belum bisa melakukan peremajaan jaringan pipa secara menyeluruh.
Keterbatasan anggaran menjadi kendala utama dalam meremajakan infrastruktur tersebut.
”Keinginan ada sehingga rencananya kami melakukan kajian tahun ini. Namun belum bisa dipastikan kapan bisa direalisasikan. Karena anggaran yang dibutuhkan tidak sedikit,” jelasnya.
Guna menyiasati keterbatasan anggaran, penanganan kebocoran saat ini difokuskan melalui teknik penyambungan pipa. Langkah darurat ini dinilai cukup membantu dalam menekan angka kebocoran dari tahun ke tahun.
”Pada tahun 2024 lalu, tingkat kebocoran jaringan pipa mencapai 29 persen. Tahun 2025 turun menjadi 25,80 persen,” tandasnya. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali