Pengelolaan sampah berbasis teknologi pyrolysis di TOSS Center, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, saat ini masih dalam tahap uji coba dan belum beroperasi maksimal. Kendati demikian, sistem pengolahan sampah ini telah menarik minat Pemerintah Kabupaten Bangli untuk diadopsi dalam mengatasi persoalan sampah daerah.
DARI keterangan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bangli, I Putu Ganda Wijaya mengungkapkan bahwa pihak Pemkab Bangli telah menggelar pertemuan dengan penyedia teknologi dari PT Bali Bersih Bersinar guna merencanakan penerapan sistem pyrolysis tersebut.
Baca Juga: Gelar Pecaruan dan Ulap-Ulap, TOSS Center Klungkung Mulai Uji Coba Mesin Pengolah Sampah Pyrolysis
”Pihak ketiga (PT Bali Bersih Bersinar) telah melakukan pengecekan ke lapangan. Masih dalam tahap penjajakan dan perumusan dari perencanaan,” ujar Ganda Wijaya.
Sesuai rencana, fasilitas pengolahan sampah pyrolysis ini bakal dibangun di sisi selatan Tempat Pengelolaan Akhir (TPA) Bangli di Desa Landih, Kecamatan Bangli. Pembangunan sarana fisik akan disesuaikan dengan kebutuhan penempatan mesin.
”Kami masih menunggu RAB (Rencana Anggaran Biaya) kebutuhan pembangunannya. Dimungkinkan mulai di APBD Induk 2027,” jelasnya.
Melalui teknologi pyrolysis, pengolahan sampah di TPA Bangli tidak hanya sebatas penampungan residu, melainkan mengolah sampah organik dan anorganik menjadi minyak. Kerja sama ini menggunakan pola pemanfaatan sarana dari pihak ketiga yang dioperasikan oleh DLH.
Untuk diketahui, TPA Bangli telah memberlakukan kebijakan penolakan sampah non-residu terhitung sejak Sabtu, 1/8/2026. Dengan aturan ini, pemilahan sampah wajib selesai di tingkat sumber. Namun di lapangan, masih ditemukan sampah tercampur yang diangkut ke TPA, terutama dari sektor usaha seperti restoran dan kafe.
Ganda menjelaskan, pihaknya tidak menyediakan jasa pengangkutan sampah khusus untuk kawasan komersial seperti restoran dan kafe. Pengangkutan dilakukan secara mandiri oleh pemilik usaha ke TPA.
”Seperti hotel, restoran, dan kafe-kafe, itu kami dorong untuk bisa mengolah sampah organiknya secara mandiri. Hanya sampah residu yang boleh mereka bawa ke TPA Bangli,” tegasnya.
Meski masih ada kendala di sektor usaha, tingkat kesadaran masyarakat umum di Bangli dalam memilah sampah diklaim menunjukkan peningkatan signifikan. Hal ini terbukti dari penurunan volume sampah harian yang masuk ke TPA Bangli, dari semula mencapai 114 ton per hari pada awal tahun 2025, kini berkurang menjadi sekitar 65 ton per hari.[*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali