NEGARA, radarbali.id - Sejumlah lahan pertanian di Jembrana terancam kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Dengan usia padi masih memerlukan pasokan air yang lebih banyak, dikhawatirkan mengalami puso atau gagal panen. Karena itu, Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana melakukan pemantauan khusus agar ketika lahan pertanian bisa segera diupayakan ditangani.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana I Wayan Sutama mengatakan, pada musim kemarau ini memang sejumlah lahan pertanian di Jembrana berpotensi mengalami kekeringan. Dari total 6708 hektar pertanian lagi, berkaca pada musim kemarin sebelumnya, hampir seribu hektar berada di daerah yang rawan kekeringan. "Semoga saja lahan pertanian yang kekeringan bisa berkurang," ujarnya.
Lahan pertanian yang berpotensi terjadi kekeringan di beberapa desa dan subak, seperti sejumlah sawah si wilayah Desa Mendoyo Dauh Tukad, Desa Yehkuning, Desa Manistutu, serta subak telepus dan subak jeropengentuh. "Ada subak yang masih perlu perbaikan sistem pengairannya karena banjir bandang, musim kemarau ini akan sangat tedampak, seperti di subak telepus," ujarnya.
Mengenai lahan pertanian yang berpotensi kekeringan, lanjutnya, tidak bisa mengandalkan subur bor karena biaya tinggi untuk membeli bahan bakar minyak. Apalagi tanaman yang masih memerlukan pasokan air sangat banyak, tidak bisa mengandalkan air sumur bor.
Sebelum memasuki musim kemarau, Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana sudah melakukan upaya antisipasi Kekeringan dengan sosialiasi dan edukasi kepada petani agar memperhatikan pola tanam dan ketersediaan air. " Dengan pola tanam yang benar, diharapkan dapat mengurangi risiko kekeringan," ujarnya.
Dinas pertanian dan pangan Jembrana melalui penyuluh pertanian lapangan (PPL) melakukan pemantauan acara khusus, terutama daerah yang memiliki potensi besar kekeringan. Sehingga ketika sudah ada tanda tanda kekeringan, akan diupayakan agar tidak berisiko meluas.
Salah satunya, dengan memudahkan petani mendapat solar subsidi untuk mengoperasikan sumur bor. Petani untuk memperoleh rekomendasi pembelian solar bersubsidi, cukup ke desa setempat. "Kalau misalnya nanti ada kendala, bisa lapor ke dinas untuk dicarikan solusi," ujarnya.***
Editor : M.Ridwan