DENPASAR,radarbali.id - Remaja Gianyar mengangkat karya Sastrawan dari Buleleng AA. Pandji Tisna pada lomba drama gong remaja di ajang Pesta Kesenian Bali (XLV) tahun 2023 bertajuk "Tragedi Bingin Banyah" dari novel Sukreni Gadis Bali karya AA Panji Tisna. Penampilan mereka yang kocak sukses mengundang gelak tawa penonton di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center), Selasa (20/6) malam.
Sanggar Seni Taksu Agung Pejeng, Banjar Uma Kuta, Desa Pejeng Kangin, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar menjadi penampil pertama dalam kategori Wimbakara (Lomba). Proses penggarapan tabuh membutuhkan waktu sekitar 25 hari
Namun, penampilan mereka yang komedian berhasil membuat Gubernur Bali I Wayan Koster dan Nyonya Putri Suastini Koster tertawa. Drama Tragedi Bingin Banyah tersebut mengisahkan peristiwa mengenaskan ini terjadi di Desa Bingin Bayah, Buleleng Barat akibat perbuatan keji seorang perempuan tua yang tamak (Men Negara). Demi uang dan harta, dengan gelap mata Men Negara telah menjual putri kandungnya (Luh Sukreni) kepada seorang mantri polisi hidung belang, I Gusti Made Tusan.
Baca Juga: Terungkap! Daftar Pemilih Pemilu 2024 Menyusut Lagi, Sebelumnya Meningkat
Karena perbuatan yang tak berperkemanusiaan ini, Men Negara harus menanggung akibatnya. Rumah dan warung tempat jadi korban, dan Luh Sukreni diperkosa Gusti Made Tusan. Pada suatu hari, Gusti Made Tusan terlibat perkelahian dan tewas di tangan penjahat ulung bernama I Gustam, yang tiada lain anak Luh Sukreni yang dibuahinya secara paksa.
Pembina drama gong remaja Duta Kabupaten Gianyar, I Gusti Putu Yasa mengungkapkan, dipilihnya novel Sukreni Gadis Bali sebagai bahan cerita dalam drama merupakan suatu langkah memasukkan sastra-sastra modern ke dalam seni drama gong dari yang biasanya cerita-cerita panji.
"Kebetulan ada arahan dari Prof Wayan Dibia. Sebelumnya pernah diangkat dalam arja (Novel Sukreni Gadis Bali). Sekarang beliau menginginkan dipakai dalam drama gong. Untuk tahun 2023 bagaimana cara penyajian pagelaran di PKB untuk drama gong menggunakan sastra modern," ungkapnya.
Baca Juga: Jejak Bung Karno dalam Lontar Geguritan Karya Tjokorda Gde Ngoerah
Yasa mengatakan, untuk pemilihan seniman muda yang akan tampil dalam lomba drama gong remaja, sebanyak 85 persen di antaranya sudah memiliki basic olah vokal yang cukup bagus. Sehingga proses latihan tidak mengalami banyak kendala. "Sebetulnya untuk Duta Kabupaten Gianyar itu, mereka sudah punya basic. Mereka ada yang basic pedalangan, arja, dan topeng. Makanya kami tidak begitu menemui kesulitan," sebutnya.
Sementara itu, pembina tabuh Ida Bagus Kartika mengungkapkan, karena isi cerita tidak bertutur tentang kerajaan, maka garapan tabuh pun ikut menyesuaikan. Sebab jika tidak didukung dengan melodi tabuh yang pas, maka antara garapan cerita dan pengiring tabuhnya tidak akan nyambung.
"Tabuhnya harus sesuai dengan karakter. Kalau drama gong yang bertema kerajaan, beda tabuhnya. Sekarang yang diangkat adalah kisah rakyat atau novel, makanya tabuhnya beda lagi. Tanpa didukung melodi tabuh yang pas, tidak akan nyambung," ungkapnya.***
Editor : M.Ridwan