TABANAN, radarbali.id – Kebakaran di tempat pembuangan sampah (TPA) Mandung, Desa Sembung, Kecamatan Kerambitan yang sempat berhasil dipadamkan pada bulan November lalu. Ternyata masih menyisakan persoalan sampai saat ini.
TPA dengan luas 2,7 hektar masih sering menimbulkan asap. Pemicunya tiada lain, karena gas metan yang terkandung didalam bawah tumpukan sampah yang masih aktif memunculkan api.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Tabanan, I Gusti Putu Ekayana, yang dikonfirmasi terpisah membenarkan hal itu. Ya sampai saat ini masih ada asap di lahan TPA Mandung,” aku Ekayana, Selasa (26/12).
Baca Juga: Memanas, Poster Caleg dan Bendera Partai Golkar di Tabanan Dirusak Oleh OTK, Begini Kondisinya
Ekaya menyebut, kendati sudah berhasil memadamkan api di TPA selama berbulan-bulan. Tapi saat ini masih ada muncul asap dari TPA, meski tidak terlalu parah.
“Asapnya tidak terlalu besar. Tipis-tipis,” jelas Ekayana kembali.
Selain asap, dikatakan Ekayana, akibat dari gas metana tersebut juga memicu kemunculan api meskipun tidak setiap hari terjadi.
“Masih ada (asap). Kadang-kadang api juga muncul. Tapi tidak setiap hari,” sebutnya.
Menurutnya, bila saja lahan TPA Mandung diguyur hujan selama seminggu, bisa saja gas metana tersebut tidak aktif memunculkan api.
“Kalau hujan seminggu mungkin padam. Ini kadang-kadang hujan tiga jam, habis itu tiga hari tidak ada hujan. Kalau hujan kan tiap sudut (TPA Mandung) kena (air),” jelasnya.
Baca Juga: Pelabuhan Gilimanuk Lebih Padat Malam Hari, Kendaraan Masuk dan Keluar Imbang Tembus Diatas 30 Ribu
Untuk titik kemunculan asap masih di TPA Mandung masih pada posisi yang sama yakni wilayah Timur Laut yang medannya berupa tebing.
Kondisi medan berupa tebing, itu yang membuat pihaknya sulit melakukan pemadaman begitu saja. Selain itu, asap yang masih sering muncul rata-rata di kaki bukit sampah. Sedangkan pada bagian atasnya, api dan asap sudah tidak ada.
“Yang bagian bawah saja. Kalau yang bagian atas sudah tidak ada (api dan asap),” ucapnya.
Sejauh ini, sambungnya, proses pendinginan masih terus dilakukan yakni dengan memanfaatkan kubangan yang dibuat untuk diisi air. “Dua atau tiga hari sekali dikasih air supaya merasap ke bawah,” tandasnya.***
Editor : M.Ridwan