Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Musim Hujan, Enam Warga Desa Patas, Buleleng, Terserang DB, Begini Gerak Cepat Pencegahannya

Francelino Junior • Selasa, 6 Februari 2024 | 05:10 WIB
GELAR FOGGING: Kemunculan korban DBD di wilayah Desa Patas ditindaklanjuti dengan fogging yang dilakukan tim relawan BMI Buleleng.(francelino junior)
GELAR FOGGING: Kemunculan korban DBD di wilayah Desa Patas ditindaklanjuti dengan fogging yang dilakukan tim relawan BMI Buleleng.(francelino junior)

SINGARAJA, Radar Bali.id-Musim hujan di awal tahun 2024, membangkitkan penyakit musiman Demam Berdarah Dengue (DBD). Dari data Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, di seluruh Puskesmas di Kabupaten Buleleng, sudah ada 82 kasus per tanggal 2 Februari 2024.

Tercatat di Puskesmas Buleleng II ada 17 kasus, Puskesmas Gerokgak I ada 14 kasus, dan di Puskesmas Sukasada I ada 11 kasus DBD.

Di Desa Patas, Kecamatan Gerokgak diketahui sudah ada enam orang warga yang menjadi korban penyakit DBD. Perbekel Patas, Made Suparsa menjelaskan korban DBD di wilayahnya tidak hanya orang tua, tetapi juga anak-anak. Mereka kini mendapat perawatan di salah satu rumah sakit di Kecamatan Seririt.

“Yang sudah terkena DB ada enam orang, tetapi yang menunjukkan gejala DBD seperti panas-panas itu banyak, takutnya mengarah ke DB. Enam orang itu ada yang tua dan dewasa, ada juga yang anak-anak,” ujarnya ditemui pada Minggu (4/2/2024) pagi.

Lalu apa tindak lanjut pemerintah desa? Suparsa mengatakan setelah mendapat laporan adanya warga yang menderita DBD, ia lalu berkoordinasi dengan bidan desa. Tak hanya itu, ia juga meminta bantuan ke Puskesmas Gerokgak I untuk melakukan fogging.

Tetapi, jawaban dari puskesmas membuatnya gusar. Karena alat fogging di puskesmas ternyata dalam keadaan rusak. Sehingga meminta bantuan tim relawan Banteng Muda Indonesia (BMI) Buleleng untuk melakukan fogging di wilayahnya.

Suparsa menuturkan, fogging dilakukan untuk meyakinkan masyarakat bila nyamuk-nyamuk DBD bisa dikendalikan dan tidak kembali memakan korban.

Sementara itu, Ketua BMI Buleleng, Ketut Putra Sedana menuturkan bila DBD selalu menjadi momok di masyarakat. Meskipun penyakit ini datangnya selalu musiman.

Wilayah warga yang menjadi korban DBD di Desa Patas yang berada di wilayah perbukitan dan cenderung lembab, serta adanya tempat penampungan air milik warga. Hal membuatnya mengajak masyarakat mengedepankan pola 3M, yakni menutup, menguras, dan mengubur. Tentu untuk mencegah berkembang dan kembalinya penyakit DBD.

“Kami turun berdasarkan permintaan melihat kasus DBD yang terjadi di Desa Patas. Kalau kita tidak memelihara lingkungan dengan baik, jelas dampaknya demam berdarah. Tetapi penyakit ini menjadi tanggung jawab bersama tak hanya pemerintah,” ujarnya di sela-sela fogging. [*]

Editor : Hari Puspita
#dbd #demam berdarah