Harga salak di Karangasem anjlok sejak dua minggu belakangan. Merosotnya harga salak di pasaran lantaran di Karangasem tengah memasuki masa panen raya.
SALAH seorang petani salak asal Desa Sibetan, Ni Komang Dwi mengungkapkan untuk salak ukuran besar yang semula harganya Rp 12 ribu per kilo, kini turun jadi Rp 4 ribu.
Sementara untuk jenis salak gula, yang semula harganya dikisaran Rp 20 ribu, kini hanya Rp 9 ribu per kilogramnya. "Anjloknya sampe 50 persen," ujarnya Rabu (21/2/2024).
Dia mengungkapkan, alasan anjloknya harga salak di Karangasem tersebut akibat memasuki musim panen raya. Kondisi ini membuat ketersediaan salak melimpah. "Ketersediaan salak dimana-mana melimpah," ucap Dwi.
Anjloknya harga salak membuat petani di Sibetan memutar otak agar salak yang sudah dipanen tidak busuk. Salah satunya dengan menjual salak ke luar Bali seperti Jawa dan Lombok. "Kalau di sana biasanya dibuat berbagai macam olahan. Salah satunya manisan," terangnya.
Sementara untuk salak yang kualitasnya bagus di jual di seluruh pengepul di Karangasem dan di luar Karangasem. "Kami konsumsi sendiri juga," imbuhnya.
Di tengah anjloknya harga buah salak, petani berharap ada kenaikan harga sehingga tidak terlalu merugi. "Musim panennya ini sampai April. Karena ketersediaan salak melimpah dengan harga murah kami terkadang rugi ongkos angkut," tuturnya.
Petani salak lainnya yakni I Putu Sudita juga mengungkapkan hal yang sama. Anjloknya harga salak terjadi sejak awal Februari lalu. "Harganya turun secara bertahap. Persaingan harga di tingkat petani juga menjadi pemicu harga salak anjlok," sebutnya.
Setiap memasuki masa panen raya, petani salak di Karangasem selalu dihadapkan dengan masalah harga murah. Ini terjadi sejak lama.
Bahkan tak sedikit yang merugi karena antara harga jual dengan biaya operasional tak sesuai. "Mau tidak mau kami jual ke pengepul dengan harga murah. Ketimbang rugi banyak. Kemungkinan harganya akan terus turun," tandasnya.[*]