Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Lelakut, Bukan Sekadar Orang-orangan Sawah Biasa, Ini Filosofi dan Konsepnya

Muhammad Basir • Senin, 18 Maret 2024 | 20:55 WIB
ADA FILOSOFINYA : Lelakut di areal sawah Subak Tegal Berkis, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara.(m.basir/radar bali)
ADA FILOSOFINYA : Lelakut di areal sawah Subak Tegal Berkis, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara.(m.basir/radar bali)

Seperti di Bali umumnya, petani Jembrana juga punya tradisi -tradisi unik dalam menggarap sawah. Salah satunya tradisi lelakut, yaitu membuat orang - orangan sawah lalu dipasang di tengah sawah. Ini tidak hanya bertujuan untuk menakut-nakuti burung pemakan padi, tetapi ada miliki unsur spiritual dan mistis.

KREATIVITAS  itu kini bisa dinikmati nilai seninya. Dan, untuk melestarikan lelakut ini digelar festival dan lomba lelakut yang Subak Tegal Berkis, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara.

Festival yang digelar dua hari, dimulai sejak, Sabtu (16/3/2024) lalu itu, diselenggarakan Majelis Alit Subak Kecamatan Negara, diikuti oleh subak se - Kecamatan Negara.

Ketua Majelis Alit Subak Kecamatan Negara I Gede Merta mengatakan, dalam pengolahan pertanian tidak hanya karena ada air langsung mulai tanam.

Sesuai dengan kearifan lokal, banyak tahapan - tahapan yang harus dilalui, salah satunya menentukan hari baik untuk memulai mengolah sawah.

"Banyak kearifan lokal dan tradisi dalam hal pertanian saat ini sudah tidak ada lagi dijalankan. Akhirnya generasi muda yang tidak tahu," ungkapnya, usai penutupan Minggu (17/3/2024).

Menurutnya, salah satu tradisi yang sudah hampir punah adalah lelakut. Boneka orang -orangan sawah ini bukan sekadar mainan yang dibuat iseng oleh petani.

 Selain memiliki tujuan menakuti burung pipit pemakan bulir padi, banyak tahapan yang berkaitan dengan kearifan lokal yang banyak tidak diketahui anak muda dan masyarakat umum.

Dalam hal pengolahan sawah, hingga pembuatan lelakut saat mulai mengolah sawah tercatat dalam manuskrip kuno lontar. Yaitu, Lontar Dharma Pemaculan, tertulis segala hal mengenai pertanian termasuk lelakut.

Saat awal mencari bahan membuat lelakut, juga harus mencari hari baik. "Banyak kearifan lokal dalam pembuatan lelakut, dari mencari bahan saja ada harus baik dan ritualnya," ungkapnya.

Karena itu, lelakut yang telah diberi mantra dan sesaji khusus juga berfungsi sebagai penolak bala untuk menjaga agar sawah dijauhi dari hal hal buruk. Namun kenyataan yang terjadi saat ini, lelakut yang dibuat hanya untuk menakuti burung, tidak ada landasan filosofi.

"Sekarang lelakut yang berfungsi sebagai penolak bala sangat jarang ditemukan. Karena saat ini  banyak petani yang tidak mengerti tatacara membuat lelakut bertuah," ungkapnya.

Salah satu upaya melestarikan lelakut, dengan festival lelakut yang pertama dibuat pada tahun ini. Meskipun hanya level kecamatan, sekitar 21 pasang lelakut berdiri antara hamparan sawah. Meskipun festival digelar mendadak, sebanyak 21 subak basah se Kecamatan Negara mengirimkan dua lelakut ke festival. "Hanya satu subak yang absen tidak mengikuti festival karena ada kesibukan lain. Kami maklumi karena memang acara festival ini mendadak," ungkapnya.

 Festival lelakut yang pertama digelar tahun ini, dibuat dengan bahan seadanya dan bentuk tergantung dari masing -masing subak. "Festival bertujuan untuk melestarikan tradisi adat budaya dan kearifan lokal mengingat hilangnya nilai-nilai mistis yang ada di areal subak," ungkapnya. [*]

 

 

 

 

 

Editor : Hari Puspita
#jembrana #festival #lelakut #orang-orangan sawah