DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Badan Pengatur Jalan Tol menutup tender prakualifikasi jalan Tol Gilimanuk-Mengwi pada Senin, 3 Februari 2025.
Proses tender telah dilaksanakan sejak 9 September 2025. Penjelasan tentang dokumen prakualifikasi juga telah diberikan pada 19 September 2024.
Badan Pengatur Jalan Tol menutup tender prakualifikasi jalan Tol Gilimanuk-Mengwi pada Senin, 3 Februari 2025.
Proses tender telah dilaksanakan sejak 9 September 2025. Penjelasan tentang dokumen prakualifikasi juga telah diberikan pada 19 September 2024.
Meski demikian, BPJT hingga hari ini belum mengumumkan hasil tender prakualifikasi Tol Gilimanuk-Mengwi.
Meski tidak masuk dalam proyek strategis nasional, Kementerian PU masih melanjutkan tender proyek tol sepanjang 96,84 kilometer tersebut.
Berdasarkan pengumuman BPJS, perkiraan investasi jalan Tol Gilimanuk-Mengwi mencapai Rp 25,4 triliun.
Jalan tol tersebut akan melewati tiga kabupaten, yakni Jembrana, Tabanan, dan Badung.
Jalan tol terdiri dari 2 lajur dan dua jalur dengan masa kerja sama yang ditawarkan adalah 50 tahun.
Tarif kendaraan golongan 1 yang ditawarkan sebesar Rp 1.595 per kilometer. Dengan tingkat pengembalian investasi diperkirakan 13,58 persen.
Proyek tol tersebut telah mangkrak sejak 2022 karena badan usaha jalan tol PT Jagat Kerti Bali mundur karena gagal memenuhi kebutuhan pembiayaan (financial close).
Padahal, investor tersebut telah membebaskan lahan 44,64 hektare dengan nilai investasi Rp 112,37 miliar. Tender ulang yang dilakukan menghasilkan keputusan calon investor PT Bangun Sarana Agung dinyatakan tidak layak.
Pemerintah sebelumnya telah mengubah status dukungan pembiayaan jalan tol dari 100 persen menjadi 10 persen. Bentuknya adalah dukungan konstruksi pada seksi Soka-Mengwi.
Tol Gilimanuk-Mengwi terbagi menjadi tiga seksi, yakni Seksi 1 Gilimanuk-Pekutatan sepanjang 53,6 kilometer, Seksi 2 Pekutatan-Soka sepanjang 24,3 kilometer, dan Seksi 3 Soka-Mengwi sepanjang 18,9 kilometer.
Tol Gilimanuk-Mengwi ditargetkan membantu mengurai kemacetan di Bali. Tol tersebut juga diharapkan membantu memeratakan pertumbuhan ekonomi yang selama ini menumpuk di Bali bagian selatan.***
Editor : Ibnu Yunianto