RADAR BALI - PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 4 Semarang menutup jalur kereta api antara Stasiun Gubug dan Stasiun Karangjati di Grobogan, Jawa Tengah.
Jalur kereta penghubung Semarang dan Surabaya tersebut ditutup karena longsor terimbas luapan Sungai Tuntang.
Hingga Minggu (9/3) pukul 07.10 WIB, PT KAI telah membatalkan dua perjalanan kereta api dan memutar balik tiga rangkaian kereta api.
Kereta api yang dibatalkan keberangkatannya adalah KA 496 Kedung Sepur dan KA 495 Kedung Sepur rute Semarang-Purwodadi.
Sedangkan tiga perjalanan kereta yang diputar balik adalah KA 261 Blora Jaya rute Poncol-Cepu dan KA 99 Harina rute Surabaya-Bandung.
Selain itu, KA 263 Ambarawa rute Surabaya-Semarang Poncol juga dialihkan perjalanannya.
Ketiga perjalanan kereta api tersebut diputarkan di Stasiun Gambringan dari Purwodadi ke arah Kota Solo melalui jalur Gambringan-Gundih.
Sesampai di Stasiun Gundih, perjalanan kereta diarahkan kembali ke Semarang melalui Stasiun Karangsono hingga ke Stasiun Poncol di Semarang.
Kali Tuntang meluap sejak Sabtu (8/3) malam dan merendam rel kereta api jalur Surabaya-Semarang di KM 32+6/7 tepatnya di jalur Stasiun Gubug-Stasiun Karangjati pada 05.27 WIB.
"Untuk keselamatan, jalur kereta api terpaksa kami tutup dan sementara tidak bisa dilalui. Perjalanan KA dari Semarang menuju Surabaya maupun sebaliknya akan terdampak," terang Manager Humas KAI Daop 4 Semarang Franoto Wibowo pada Minggu, 9 Maret 2025.
KAI telah menerjunkan puluhan petugas tanggap darurat untuk mengembalikan jalur kereta api agar dapat segera digunakan kembali. "Semoga perjalanan kereta api dapat normal kembali," tuturnya.
Genangan terjadi karena tanggul Kali Tuntang di Desa Baturagung, Kecamatan Gubug, Grobogan jebol. Puluhan kepala keluarga mengungsi ke mushala karena rumahnya terendam sekitar 50 sentimeter.
Pada tahun ini, jebolnya tanggul tersebut telah terjadi dua kali.
Pada 21 Januari lalu, tanggul Kali Tuntang di Baturagung juga jebol dan menyebabkan puluhan warga mengungsi serta jalur kereta Semarang-Surabaya terganggu. ***
Editor : Ibnu Yunianto
Sumber : Radar Bali