RADAR BALI - Malam pangerupukan atau malam menjelang perayaan Hari Suci Nyepi di Denpasar diwarnai dengan upacara tawur kesanga dan pengarakan ogoh-ogoh.
Untuk mendukung jalannya pengarakan ogoh-ogoh, Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menyiapkan 2 ribu bungkus nasi jinggo untuk sekaa taruna desa adat se-Denpasar.
Tak hanya itu, Pemkot Denpasar juga menyiapkan seperangkat baleganjur (alat musik gamelan Bali) bagi sekaa taruna yang tidak membawa pengiring ogoh-ogoh sendiri.
Dua set baleganjur tersebut disiapkan di Patung Catur Muka, Dangin Puri Kauh, Denpasar Utara.
"Pemkot juga menyiapkan fasilitas kesehatan untuk situasi darurat, toilet di kantor Wali Kota Denpasar, dan dua ribu nasi jinggo," kata Jaya Negara dalam siaran pers pada Minggu, 16 Maret 2025.
Untuk membantu anggaran pembuatan ogoh-ogoh, Pemkot Denpasar telah membagikan Bantuan Keuangan Khusus (BKK) pada seluruh sekaa taruna sejak awal Maret.
Pada tahun ini, anggaran BKK telah naik dari Rp 10 juta menjadi Rp 20 juta.
Kenaikan BKK tersebut bertujuan untuk mendukung implementasi Tri Hita Karana.
Prinsip tersebut meliputi Palemahan (hubungan harmonis dengan alam dan lingkungan), Parahyangan (hubungan dengan Tuhan, ketuhanan, dan agama), serta Pawongan (hubungan harmonis dengan sesama manusia).
Bendesa Adat Denpasar Anak Agung Ngurah Alit Wirakesuma mengimbau 375 sekaa taruna yang mengikuti pengarakan ogoh-ogoh di Denpasar tidak menggunakan sound system.
Larangan penggunaan sound system dalam pengarakan ogoh-ogoh diberlakukan karena tidak sesuai ritual dan tradisi desa adat.
Bendesa Adat mengimbau penggunaan baleganjur, kulkul, dan alat musik tradisional lain sebagai pengiring ogoh-ogoh.
"Akan ada sidak penggunaan sound system untuk menjaga esensi pengarakan ogoh-ogoh tetap sesuai tradisi," katanya.
Untuk mengamankan pelaksanaan tradisi pengarakan ogoh-ogoh di malam pangerupukan, Bendesa Adat Denpasar didukung oleh ribuan pecalang, aparat TNI dan Polri, serta Satpol PP.
Malam Pangerupukan merupakan tradisi mengusir roh-roh jahat atau Bhuta Kala dari rumah dan lingkungan sekitar rumah.
Pengusiran dilakukan sebagai persiapan untuk menyambut Hari Raya Nyepi.di mana umat Hindu Bali melakukan introspeksi diri dan menyucikan diri.
Salah satu ciri khas Malam Pangerupukan adalah arak-arakan ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh adalah patung-patung raksasa yang melambangkan Bhuta Kala.
Ogoh-ogoh diarak keliling desa atau kota, disertai dengan suara-suara bising seperti bunyi kulkul (kentongan), petasan, dan keplug-keplugan (petasan dari karbit). ***