SEMINYAK, radarbali.jawapos.com – Suasana bulan Syawal masih terasa. Giliran keluarga besar warga muslim Universitas Udayana menggelar Halal Bihalal bertempat di Vila Uma Sapna Seminyak Kuta Utara, Ahad, 20 April 2025 baru lalu.
Serasa linier, Halal bihalal yang mengusung tema, Memaknai Halal bi Halal sebagai Wujud Menyama Braya dalam Keberagaman di Universitas Udayana, tersebut terlaksana penuh keakraban.
Acara Halal bi Halal Warga Muslim Universitas Udayana tahun 2025 berlangsung secara sederhana namun dengan khidmat dan penuh kehangatan, mempertemukan keluarga Universitas Udayana dalam semangat silaturahmi dan kebersamaan pasca Idul Fitri.
Hikmah Halal bi Halal disampaikan oleh Dr. KH. Masrur Makmur Latanro, seorang ulama yang juga dikenal sebagai pengusaha sukses. Beliau menempuh pendidikan pesantren di Pondok Pesantren IMMIM Makassar dan meraih gelar Doktor dalam Ilmu Linguistik dari Universitas Hasanuddin.
Seperti diketahui, Masrur Makmur saat ini juga menjabat Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Bali, Majelis Syuriah PW NU Bali, serta pemilik Pondok Pesantren Modern Showatul Is’ad di Pangkep, Sulawesi Selatan.
Dalam ceramahnya, Masrur Makmur menekankan makna Halal bi Halal sebagai tradisi luhur setelah merayakan Idul Fitri yang sarat makna sosial dan spiritual.
”Tradisi ini tidak hanya menjadi ajang saling memaafkan, namun juga memperkuat jalinan kebersamaan dan persaudaraan di tengah keberagaman,” ungkap agama yang terkenal dengan kepedulian sosialnya ini.
Dr. KH. Masrur menyampaikan bahwa kata fitrah yang berasal dari bahasa Arab “fathrah” bermakna keterbukaan dan kemurnian.
”Dalam konteks ini, fitrah manusia sejalan dengan filosofi lokal Bali yaitu Menyama Braya – hidup rukun dan damai dalam perbedaan. Hal ini merupakan refleksi nilai-nilai universal yang selaras dengan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” urai tokoh asal Sulawesi Selatan ini.
Masrur Makmur juga selaraskan makna Halal bi Halal dengan filosofi Tri Hita Karana. Yaitu keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Sebagai khalifah di muka bumi yang rahmatan lil alamin, manusia dituntut menjaga ketiga hubungan ini agar tercipta kehidupan yang damai dan berkelanjutan.
Dalam penutup tausiyahnya, beliau menekankan pentingnya memaafkan sebagai bentuk kekuatan spiritual dan emosional. Orang yang mampu memaafkan akan memiliki jiwa yang damai, pikiran positif, dan daya tahan tubuh yang lebih kuat. Sebaliknya, jiwa yang penuh dendam rentan terhadap tekanan batin, kesepian, dan depresi.
Beliau mengutip Mahatma Gandhi: “The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong.” Harfiahnya, “Yang lemah tidak bisa memaafkan. Memaafkan adalah sifat orang yang kuat."
Dalam suasana kebersamaan tersebut, pesan penting yang disampaikan adalah bahwa perbedaan bukan alasan untuk berpecah, melainkan kekayaan untuk dirangkul dengan semangat menyama braya. Halal bi Halal menjadi momentum memperkuat toleransi dan pluralisme di lingkungan Universitas Udayana.***
Editor : M.RidwanSumber : radarbali.jawapos.com