RADAR BALI - Saat wilayah Denpasar dan Badung dilanda banjir bandang, situasi berbeda justru terjadi di Kabupaten Buleleng.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Bali telah menerbitkan peringatan dini potensi kekeringan ekstrem untuk Kecamatan Tejakula, Buleleng.
Berdasarkan pengamatan terbaru pada Jumat (10/10), wilayah Tejakula telah memasuki status awas kekeringan karena tidak mengalami hujan selama lebih dari 60 hari.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Wilayah III Bali Aminudin Ar Roniri menjelaskan, kondisi kekeringan diproyeksikan tidak akan meluas karena pada awal November diprediksi akan mulai turun hujan.
BMKG sebelumnya memperkirakan puncak musim hujan di Bali akan terjadi pada Januari-Februari 2026.
Sebanyak 55 persen dari 20 zona musim di Bali akan memasuki puncak musim hujan pada Februari 2026.
Sementara itu, 45% atau sembilan zona musim lainnya akan mengalami puncaknya pada Januari 2026.
Wilayah yang memasuki puncak musim hujan pada Januari 2026 meliputi:
- Buleleng (utara dan timur)
- Tabanan (utara, tengah, dan selatan)
- Badung (utara, tengah, dan selatan)
- Gianyar (utara, tengah, dan selatan)
- Bangli (tengah)
- Karangasem (utara, tengah, timur, dan selatan)
- Kota Denpasar dan Nusa Penida
Sementara itu, 11 zona musim yang akan memasuki puncak musim hujan pada Februari 2026 mencakup:
- Seluruh wilayah Jembrana
- Buleleng (barat, selatan, tengah, utara, dan tenggara)
- Tabanan (barat dan utara)
- Karangasem (barat dan selatan)
- Bangli (selatan, utara, tengah, dan timur)
- Klungkung (utara)
- Badung (utara)
Sifat dan Awal Musim Hujan
Sifat musim hujan pada 20 zona musim di Bali secara umum diprediksi normal di 15 zona atau 75% wilayah.
Namun, lima zona musim diprediksi berada di atas normal, termasuk wilayah Buleleng (utara dan timur), Tabanan (tengah), Badung (tengah), Bangli (selatan), Karangasem (barat dan utara), Gianyar (selatan), dan Nusa Penida.
BMKG juga merinci awal musim hujan di Bali, di mana satu zona musim sudah memulainya pada September 2025.
Sembilan zona musim diperkirakan dimulai pada Oktober 2025, dan 10 zona musim pada November 2025.
Aminudin Al Roniri menekankan pentingnya kewaspadaan bagi pemerintah daerah, institusi terkait, dan masyarakat, terutama di daerah yang rawan banjir dan tanah longsor, untuk mengantisipasi potensi dampak musim hujan.***
Editor : Ibnu Yunianto