Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Lumpur Proyek Shortcut Meluber ke Kebun dan Rumah Warga

Hari Puspita • Jumat, 11 November 2022 | 06:05 WIB
DIKELUHKAN WARGA : Tanah buangan proyek shortcut di Gitgit, Sukasada, Buleleng, ini masih ke lahan milik warga. (foto :eka prasetia/radar bali)
DIKELUHKAN WARGA : Tanah buangan proyek shortcut di Gitgit, Sukasada, Buleleng, ini masih ke lahan milik warga. (foto :eka prasetia/radar bali)
SUKASADA– Dampak pembangunan proyek shortcut titik 7-8 kembali dikeluhkan warga di Desa Gitgit. Warga meminta agar pelaksana proyek bertanggungjawab. Sebab limbah tanah uruk yang muncul dari proyek, ternyata menjadi lumpur saat diguyur hujan. Material lumpur itu pun menimbun perkebunan serta rumah warga.

Material itu bukan hanya merusak kebun serta rumah warga. Tapi juga menutup mata air untuk akses air minum. Saat ini lahan perkebunan warga yang terdampak mencapai 50 are. Sementara warga yang kehilangan akses mata air mencapai 50 kepala keluarga.

Salah seorang warga Gitgit, I Nyoman Adiana mengatakan, saat awal pembangunan proyek shortcut titik 7-8 dirinya tak terlalu risau. Sebab saat itu dampak yang muncul hanya debit air yang besar.

Air tersebut masih bisa ditampung oleh pangkung yang terdapat di sekitar shortcut. Air yang terlalu deras hanya memicu terkikisnya lahan warga yang terletak di kemiringan.

Namun sejak Agustus lalu, limbah yang muncul bukan hanya air. Tapi juga lumpur. Bahkan pangkung yang tadinya jadi jalur air limpahan hujan, kini justru tertutup lumpur. Tak tanggung-tanggung, ketebalan lumpur mencapai ketinggian 6 meter.

“Sekarang sudah lebih parah. Tanah saya tertutup lumpur. Tanaman kopi, pisang, cengkih, itu mati semua. Dulunya kan air saja. Tapi sekarang sudah lumpur yang menutup lahan saya,” kata Adiana yang ditemui di Desa Gitgit kemarin (10/11).

Adiana mengaku telah mengadu ke sejumlah pihak. Mulai dari aparat desa, pelaksana proyek, kantor camat, hingga anggota DPRD Bali. Namun hingga kini belum ada tindak lanjut penanganan. Menurutnya warga sudah cukup lama bersabar, karena pembangunan shortcut merupakan proyek pemerintah. Tapi karena sudah lama diabaikan, warga akhirnya angkat bicara.

“Tadinya pelaksana proyek janji mau ngasih kompensasi. Itu janjinya bulan Mei. Tapi sampai sekarang belum ada realisasi. Permintaan kami ini sebenarnya sederhana saja, tolong tanggulangi limbahnya, dan kembalikan tanah kami produktif lagi,” ujarnya.

Perbekel Gitgit I Putu Arcana mengaku warga terus mengeluh terkait dampak proyek tersebut. Pihaknya sudah beberapa kali mendatangi pelaksana proyek, meminta agar pelaksana melakukan langkah mitigasi dan penanganan dampak limbah. Tapi hingga kini upaya penanganan limbah tampaknya kurang efektif. Salah titik terparah adalah di Jalan Pangkung Dalem, Desa Gitgit. Setiap kali hujan turun, maka lumpur akan meluber hingga ke jalan raya.

Ia mendesak agar pelaksana proyek memetakan kembali dampak yang timbul serta pola penanganannya. Sebab bila dibiarkan seperti saat ini, Arcana meyakini masalah itu akan menjadi bom waktu bagi warganya.

“Kami ingin supaya aliran lumpur itu dipecah. Bukan terpusat dialirkan ke satu titik saja. Kalau memecah aliran itu kan solusi juga sebenarnya. Kami juga berharap agar warga yang terdampak segera ditanggulangi dampaknya,” ujarnya.

Sementara itu Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (K3) Proyek Shortcut 7-8, Amik menolak menjawab aspirasi warga. “Kalau saya jawab, saya takut salah. Karena soal aspirasi warga itu bukan kapasitas saya. Yang jelas pekerjaan ini akan diselesaikan step by step, ini belum selesai,” katanya. (eka prasetya/radar bali) Editor : Hari Puspita
#shortcut desa Gitgit #shortcut singaraja denpasar #dampak shortcut