Sepanjang tahun 2022, tercatat sudah ada 10 orang yang meninggal dengan status suspect rabies. Kasus terakhir, terbilang berdekatan dengan kasus rabies yang terjadi di Desa Tirtasari, Kecamatan Banjar, yang terjadi pada Senin (7/11) lalu.
Muncul dugaan kasus rabies itu terus meluas dari Desa Tirtasari ke desa-desa tetangga. Mengingat Desa Kayuputih dan Desa Tirtasari merupakan desa bertetangga dan berbatasan langsung.
Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bali, korban sebenarnya sudah mengeluhkan kondisi demam, batuk dan pilek pada Rabu (2/11). Namun saat itu korban tak mengeluhknya penyakitnya, sebab demam sudah reda setelah korban mengonsumsi obat.
Namun pada Rabu (9/11), korban mengeluh sulit menelan air dan menggigil saat terkena angin. Gejala itu terus berlangsung hingga keesokan harinya. Keluarga akhirnya memutuskan mengajak korban ke RSUD Tangguwisia pada Kamis (10/11) pagi. Pihak RSUD Tangguwisia memutuskan merujuk korban ke RSUD Buleleng.
Begitu sampai di RSUD Buleleng, korban sempat dilarikan ke ruang isolasi untuk kasus infeksius, termasuk kasus rabies. Ternyata semakin lama, gejala yang muncul semakin banyak. Korban kemudian dinyatakan meninggal pada Jumat (11/11) siang.
Korban sempat digigit seekor anjing liar di bagian tangan kanan pada bulan Agustus lalu. Namun saat itu korban meyakini bahwa anjing yang menggigit adalah anjing milik tetangganya. Sehingga saat melapor ke puskesmas, korban hanya mendapat perawatan luka dan diminta mengawasi anjing tetangganya.
Ternyata anjing korban, berbeda dengan anjing milik tetangganya. Sehingga korban tak pernah mendapat suntikan vaksin anti rabies (VAR).
Direktur RSUD Buleleng dr. Putu Arya Nugraha, Sp.PD saat dikonfirmasi mengakui kasus rabies kembali menelan korban jiwa. Menurutnya pasien sudah menunjukkan gejala-gejala yang identik dengan pasien rabies.
“Saat masuk memang keluhannya identik dengan pasien rabies. Seperti takut air, takut angin, gelisah, sulit menelan, dan air liur berlebihan. Itu sudah gejala yang sangat identik dengan rabies,” kata Arya.
Apabila pasien telah menunjukkan gejala tersebut, pihaknya tak bisa berbuat banyak. Sebab virus rabies telah menyebar ke selaput otak. Ia pun menyarankan agar upaya pencegahan dilakukan pada bagian hulu dan tengah.
“Kami ini kan di hilir. Kalau sudah menunjukkan gejala identik dengan rabies, memang sulit ditolong. Jadi solusinya ya harus dilakukan pencegahan di hulu dengan menertibkan pola pemeliharaan anjing, dan di tengah dengan tata laksana pemberian vaksin. Karena VAR itu sangat efektif mencegah penyebaran virus rabies di tubuh manusia,” demikian Arya.
Asal tahu saja, kasus rabies di Buleleng terus melonjak. Pada tahun ini, telah tercatat 10 orang warga Buleleng yang meninggal karena kasus rabies. Sementara pada tahun 2021 lalu, hanya ada seorang saja yang dinyatakan meninggal akibat rabies. (eka prasetia/radar bali)
Editor : Hari Puspita