Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kontraktor Proyek Shortcut Diduga Langgar Amdal, Tanah Uruk ke Kebun Warga

Hari Puspita • Kamis, 17 November 2022 | 13:33 WIB
TUNJUKKAN LOKASI : Warga menunjukkan lahan yang terdampak pembuangan disposal tanah uruk. (foto: eka prasetya/radar bali)
TUNJUKKAN LOKASI : Warga menunjukkan lahan yang terdampak pembuangan disposal tanah uruk. (foto: eka prasetya/radar bali)
SINGARAJA– Proses pembuangan limbah berupa tanah urug dari proyek shortcut di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, diduga melanggar dokumen analisis dampak lingkungan (amdal). Lantaran tanah uruk mengalir ke areal perkebunan warga yang tidak masuk dalam peta proyek shortcut.

Pantauan Jawa Pos Radar Bali, proses pembuangan disposal itu terlihat di titik proyek 7. Tepatnya dekat Bale Banjar Wirabhuana, Desa Gitgit. Dari tanah milik warga setempat, terlihat ada dua alat berat yang memproses pembuangan disposal. Alat berat itu merupakan ekskavator dan buldoser. Buldoser sendiri mendorong tanah ke arah jurang.

Dampaknya tanah mengarah ke lembah. Dalam kondisi tanah basah bercampur air, akhirnya tanah mengalir ke areal perkebunan warga. Ujung-ujungnya tanah terus mengalir ke hilir hingga menyumbat beberapa saluran air.

Padahal sesuai dokumen amdal, tanah disposal seharusnya dibuang ke beberapa titik. Diantaranya di Desa Pancasari, TPA Bengkala, serta proyek Pusat Kebudayaan Bali (PKB). Tak tanggung-tanggung, jumlah tanah urug yang menjadi limbah diprediksi mencapai 1 juta kubik. Jumlah itu setara dengan 50ribu truk fuso yang mengangkut tanah urug.

Perbekel Gitgit I Putu Arcana saat dikonfirmasi, pihaknya telah berkoordinasi dengan pelaksana proyek. Ia meminta agar lumpur yang menyumbat saluran di Jalan Pangkung Dalem, segera diatasi.

“Setelah mitigasi minggu lalu, kontraktor pelaksana menyanggupi menambah gorong-gorong. Tadinya hanya satu gorong-gorong, sekarang ditambah lagi satu,” kata Arcana.

Selain itu ia meminta agar pelaksana proyek segera menuntaskan proses ganti rugi pada kebun warga yang mengalami kerusakan. Informasinya pelaksana proyek telah melakukan proses ganti rugi secara bertahap sejak akhir pekan lalu.

Apakah pelaksanaan proyek melanggar amdal? Arcana mengaku tak bisa memberi penjelasan secara teknis. Namun secara pandangan mata, ia tak menampik adanya potensi pelanggaran amdal dalam pembuangan limbah tanah urug.

“Tempo hari kami sudah undang instansi terkait. Dari Dinas Lingkungan Hidup, Dinas PU, dan BPBD. Karena secara teknis mereka yang paham apakah sengaja atau tidak. Kami tidak tahu pasti apakah itu memang disengaja atau hal lain. Tapi memang kondisi curah hujan belakangan ini lebih tinggi dari kondisi normal,” imbuhnya.

Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Buleleng Gede Melandrat mengaku disposal tanah urug hasil proyek shortcut menjadi masalah. Sebagian disposal sebenarnya telah digunakan untuk penataan monumen Panji Landung di shortcut 5-6. Namun masih banyak disposal yang belum digunakan.

Menurutnya peristiwa yang terjadi saat ini adalah erosi. “Tumpukan tanah itu belum dipadatkan. Akibatnya saat turun hujan akhirnya erosi dan ke arah kebun warga,” ujar Melandrat.

Ia mengklaim telah menurunkan tim pengawas pada pekan lalu. Sebab di lokasi masih terjadi silang pendapat antara kontraktor pelaksana dengan masyarakat.

“Pemilih lahan menganggap pelaksana proyek mendorong tanah, sampai mengalir ke kebunnya. Sedangkan pelaksana proyek menyatakan meratakan tanah dan itu bagian dari pekerjaan. Memang kondisi tanah termasuk kemiringan ekstrem dan curah hujan tinggi. Sehingga potensi erosi juga tinggi. Ini masih kami tengahi,” ujarnya.

Di sisi lain, Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (K3) Proyek Shortcut, Amik mengklaim proses pembuangan disposal sudah sesuai prosedur. Menurutnya saat ini proyek masih dalam tahap penataan.

“Ini pekerjaannya belum selesai. Nanti pasti kami siapkan dinding penahan tanah (DPT). Kalau dilihatnya sekarang kondisinya memang tidak ideal. Proses pekerjaan ini masih berjalan,” katanya. (eka prasetya/radar bali)

 

  Editor : Hari Puspita
#shortcut singaraja denpasar #shortcut #shortcut Buleleng