Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Penimbangan Lestari, Gede Wiadnyana mengatakan, bangkai dolfin itu ditemukan sekitar 50 meter arah timur bak penetasan penyu di Pantai Penimbangan. Bangkai itu ditemukan oleh salah seorang anggota pokmaswas dan langsung diteruskan pada kelompok.
Menurut Wiadnyana ini kedua kalinya seekor dolfin terdampar di pantai tersebut. “Setelah ada penemuan itu, langsung kami amankan ke pantai bangkainya. Lalu kami laporkan pada BPSPL Denpasar,” kata Wiadnyana.
Setelah ditemukan, bangkai lumba-lumba itu langsung menjalani proses nekropsi. Nekropsi melibatkan dosen Fakultas MIPA Universitas Pendidikan Ganesha Gede Iwan Setiabudi, dan Jaringan Satwa Indonesia, drh. Deny Rahmadani.
Iwan mengungkapkan, perairan Bali Utara merupakan jalur perlintasan lumba-lumba. Menurut Iwan, lumba-lumba yang ditemukan merupakan jenis fraser. Selain jenis itu, sebenarnya ada juga jenis pemintal, hidung botol, dan totol. Biasanya mamalia laut itu akan melintas setiap pagi.
Iwan tak dapat memastikan apakah bangkai dolfin yang ditemukan berasal dari kelompok yang sama dengan yang melintas di perairan Bali Utara. Namun ia menyebutkan bahwa bangkai dolfin sempat terdampar di Pantai Penimbangan pada tahun 2017 lalu, serta paus yang terdampar pada 2019.
Sementara itu, drh Deny Rahmadani menyebutkan, hasil pemeriksaan fisik bangkai lumba-lumba tersebut memiliki panjang sekitar 233 centimeter dengan diameter 172 centimeter. Lumba-lumba ini mengalami perubahan ukuran karena sudah mengalami pembusukan.“Perkiraannya sudah mati lebih dari satu hari dan mengalami pembusukan karena suhu panas air laut,” kata Deny.
Sayangnya dalam proses nekropsi itu, tak banyak informasi yang didapatkan. Ia memastikan tidak ada jaring maupun sampah plastik yang ditemukan pada organ dalam. “Kemungkinannya ada indikasi sakit, sehingga lumba-lumba ini tenggelam kemudian terdampar ke pesisir. Namun untuk memastikan lagi kami akan lakukan uji sampel di laboratorium,” ujar Deny.
Terpisah Kepala Resor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Buleleng Putu Citra Suda Armaya mengungkapkan, dolfin yang terdampar itu merupakan jenis lumba-lumba fraser (Lagenodelphis hosei). Dari hasil pengukuran, dolfin itu memiliki panjang 233 centimeter dengan berat hingga 100 kilogram.
“Tadi sudah dilakukan identifikasi, pemeriksaan fisik dari luar dan pemeriksaan fisik di dalam untuk mengetahui penyebab kematiannya. Kami juga sudah ambil sampelnya untuk uji laboratorium,” kata Citra saat ditemui.
Karena lumba-lumba itu merupakan jenis yang dilindungi, maka bangkai mamalia laut itu langsung ditenggelamkan. Selain itu proses identifikasi dan nekropsi telah dinyatakan tuntas. (eps) Editor : Donny Tabelak