Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Pasokan Solar Tersendat, Antrean SPBU di Buleleng pun Mengular

M.Ridwan • Rabu, 7 Desember 2022 | 06:30 WIB
CEMAS: Antrean kendaraan yang hendak mengisi solar di SPBU Penarukan Buleleng.
CEMAS: Antrean kendaraan yang hendak mengisi solar di SPBU Penarukan Buleleng.
SINGARAJA – Fenomena antrean kendaraan bermotor berbahan bakar solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) terus terjadi. Pasokan solar yang tersendat, menyebabkan antrean kendaraan terus mengular di sejumlah SPBU.

Saat ini ada beberapa SPBU di Buleleng yang menjual solar. Diantaranya SPBU Pacung, SPBU Giri Emas, SPBU Penarukan, SPBU Banyuasri, SPBU Anturan, SPBU Jagaraga, dan SPBU Pemuteran. Namun pasokan di seluruh SPBU itu disebut dalam kondisi kosong.

Di SPBU Penarukan misalnya. Kendaraan telah mengular sejak Selasa (6/12) subuh. Para sopir berharap mendapat jatah solar agar bisa beroperasi seperti sedia kala. Tapi hingga siang hari, solar belum juga datang. Dampaknya kendaraan mengular hingga 500 meter arah barat SPBU.

Salah seorang pengemudi truk material, Gede Budi mengungkapkan, pasokan solar sudah mulai langka sejak beberapa hari terakhir. Fenomena itu bukan hanya terjadi di Buleleng. Tapi juga di Jembrana serta Karangasem. Ia pun was-was karena harus mengangkut material dari Jembrana menuju Karangasem.

“Ini sudah ada 4 hari sepert ini ada kelangkaan solar. Informasinya sih sekarang sudah di seluruh Bali kondisinya seperti ini,” kata Budi.

Ia mengaku tetap pasrah mengantre solar. Sebab bahan bakar sejenis, yakni dexlite, harganya tak masuk akal. Bahkan dua kali lipat dari harga solar. Apabila menggunakan dexlite, sebagai sopir ia akan merugi. Karena ongkos angkut terbatas.

Hal serupa diungkapkan Edi Sastrawan, pengemudi bahan bangunan. Gegara solar langka, pengiriman bahan bangunan kepada konsumen juga harus tertunda. Sebab waktu sudah habis untuk mengantre solar.

“Ini juga sudah antre dari pagi. Belum ada kabar kapan solarnya sampai. Kalau nggak ada solar, gimana mau antar bahan bangunan,” keluhnya.

Di sisi lain, pengelola SPBU Penarukan, Ketut Kuntiada mengungkapkan, sejak beberapa hari ini pengiriman solar mulai tersendat. Biasanya SPBU Penarukan mendapat kuota 4.000 liter solar per hari. Kini kuota dibatasi menjadi 8.000 solar per lima hari.

Terakhir kali solar diterima SPBU Penarukan pada Senin (5/12) lalu. “Sampai hari ini belum ada kabar kapan ada kiriman lagi. Biasanya tidak ada antrian panjang begini. Karena kalau di sini habis, di SPBU lain ada. Kalau sampai antre begini, artinya di SPBU lain juga kosong,” katanya. (eps/rid)

  Editor : M.Ridwan
#SPBU di Buleleng #antrean SPBU mengular #Solar #kelangkaan bbm #pasokan solar tersendat