Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Mih! Harga Cabai Makin Pedas di Pasar, Inflasi Mengintai

Donny Tabelak • Selasa, 10 Januari 2023 | 12:10 WIB
Pemantauan harga komoditas bahan pokok di pasar tradisional. (Eka Prasetya)
Pemantauan harga komoditas bahan pokok di pasar tradisional. (Eka Prasetya)
SINGARAJA– Harga cabai makin pedes di pasar tradisional. Kenaikan garga cabai diduga karena  pasokan dari petani terbatas. Maklum saja, petani cenderung menghindari menanam cabai pada musim penghujan. Lantaran potensi gagal panen terbilang tinggi.

Pada awal Desember 2022 lalu, harga cabai rawit merah di pasar tradisional sebenarnya hanya berkisar pada angka Rp 26 ribu hingga Rp 28 ribu per kilogram. Namun pada awal tahun, harga sudah melonjak menjadi Rp 36 ribu hingga Rp 40 ribu per kilogram. Kondisi itu diprediksi memicu inflasi akibat harga komoditas yang tak stabil.

Inflasi di Buleleng sendiri terbilang stabil bila dibandingkan dengan inflasi nasional. Secara nasional laju inflasi sepanjang tahun 2022 sebesar 5,51 persen. Sementara laju inflasi di Buleleng hanya sebesar 4,63 persen. Meski begitu angka itu masih lebih tinggi dari target Pemkab Buleleng yang hanya 4,5 persen.

Penjabat Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana mengatakan, komoditas cabai kini tengah jadi perhatian Satgas Pangan dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Sebab dari tahun ke tahun, harga cabai selalu mengalami kenaikan dan berkontribusi pada inflasi. Masalah itu tak bisa tertangani dari tahun ke tahun.

Mengacu data, kata Lihadnyana, kenaikan harga akan dimulai pada bulan Oktober lalu. Selanjutnya harga akan terus naik dan akan mencapai puncaknya pada bulan Januari maupun Februari.

Mengatasi masalah tersebut, ia mengklaim pemerintah telah melakukan upaya manajemen produksi. “Tiga bulan sebelum kenaikan harga, pola tanam harus sudah diatur. Supaya bisa dipanen pada bulan-bulan yang biasanya terjadi kenaikan harga,” kata Lihadnyana.

Begitu panen, perusahaan umum daerah (perumda) akan turun tangan menyerap hasil panen petani. Perumda Swatantra dan Perumda Pasar Argha Nayottama telah diminta menjadi offtaker alias pemasok kebutuhan industri dan pasar. “Begitu panen, perumda turun jadi offtaker. Barang langsung dibawa ke pasar. Jadi rantai pasokannya nggak panjang. Harga dari petani ke konsumen juga tidak terlalu jauh,” ujarnya.

Pria asal Desa Kekeran itu juga mengklaim pemerintah telah berupaya meningkatkan luas lahan tanam cabai. Caranya membagikan bibit cabai pada Tim Penggerak Program Kesejahteraan Keluarga (TP PKK), membuat program pekarangan lestari, hingga membagikan bibit kepada masyarakat umum. “Desa-desa juga kami minta lakukan gerakan menanam cabai. Konsepnya bagaimana gunakan lahan yang kosong di desa, biar ditanami cabai secara massal. Khususnya cabai rawit. Sebab (kenaikan harga) cabai ini terus berulang. Kalau beras, bawang, telor, sudah bisa dikendalikan,” tandasnya. (eps) Editor : Donny Tabelak
#komoditas #cabai rawit #harga cabai naik #inflasi