Kepala DLH Buleleng Gede Melandrat saat dihubungi kemarin mengatakan, ada 150 orang THL yang diminta lembur pada hari pengrupukan. Mereka diminta siaga dan segera menangani sampah yang berserakan di jalan. Baik itu sampah sisa air mineral saat arak-arakan ogoh-ogoh, maupun sampah caru yang menumpuk di pinggir jalan.
Kendati telah mengerahkan ratusan THL, mereka harus kerja hingga tengah malam untuk membersihkan sampah-sampah tersebut. Mereka telah mulai bekerja sejak pukul 18.00 sore dan baru tuntas membersihkan sampah-sampah itu pada tengah malam. “Meskipun sampai tengah malam, sebenarnya tahun ini lebih ringan. Karena masyarakat sudah mengumpulkan di satu titik. Jadi lebih meringankan kerja THL kami,” kata Melandrat.
Sepanjang malam pengrupukan pihaknya menyiapkan 15 unit dump truck, 4 unit mobil pikap, dan 3 unit kendaraan roda dua. Sampah-sampah organik dibawa ke transfer depo di Kelurahan Penarukan serta TPS Jalan Seroja Kelurahan Banyuasri. Sementara sampah-sampah anorganik dibawa ke Bank Sampah Induk (BSI) Kelurahan Banyuasri.
Selanjutnya sampah-sampah itu dibawa ke TPA Bengkala pada Kamis (24/3) kemarin. DLH sengaja mengaktifkan lokasi-lokasi penampungan tersebut, untuk mempercepat proses penanganan sampah. Apabila seluruh sampah itu harus diangkut ke TPA Bengkala pada malam pengrupukan, Melandrat khawatir para petugas akan kehabisan waktu.
Ia mengklaim penanganan sampah itu sudah tuntas. Hanya sampah di TPS Desa Panji yang masih menumpuk. DLH ogah mengangkut sampah-sampah itu, sebab Desa Panji sudah memiliki TPS Reduce Reuse dan Recycle (TPS3R). Sehingga pengelolaan sampah di tingkat desa menjadi lebih optimal. “Kami akan koordinasikan lagi dengan pemerintah desa. Karena di sana sudah ada TPS3R. Seharusnya kami tinggal mengangkut sampah residu, bukan sampah reguler. Kami akan optimalisasi tata kelolanya,” tukas Melandrat. (eps)
Editor : Donny Tabelak