Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Duh! Ada Delapan Kasus Meningitis Baru, Diduga Konsumsi Lawar Getih Saat Pagerwesi

Donny Tabelak • Selasa, 30 Mei 2023 | 13:05 WIB
WASPADA: Delapan warga terinfeksi Meningitis Streptococcus Suis (MSS).
WASPADA: Delapan warga terinfeksi Meningitis Streptococcus Suis (MSS).
SINGARAJA– Kasus meningitis mencuat di Buleleng. Dalam sepekan terakhir, RSUD Buleleng tengah merawat delapan kasus meningitis baru. Para pasien masuk dalam waktu yang hampir bersamaan. Seluruhnya memiliki riwayat yang mirip, yakni mengonsumsi lawar getih saat hari raya Pagerwesi.

Terakhir RSUD Buleleng menerima pasien pada Minggu (28/5) lalu. Seluruhnya masuk dengan gejala yang mirip. Yakni mengalami demam, nyeri kepala, dan kaku leher. Bahkan ada pula yang mengalami penurunan kesadaran. Pasien mengamuk saat dibawa ke Instalasi Gawat Darurat, sehingga pasien harus diikat sementara di tempat tidur.

Dokter spesialis saraf di RSUD Buleleng, dr. Luh Putu Lina Kamelia, Sp.N. menuturkan, para pasien masuk dalam waktu berdekatan. Sejak Sabtu (27/5) lalu, ada empat pasien yang masuk. “Kemarin (Minggu, Red) itu saja ada tiga orang yang masuk hampir bersamaan,” ujar Lina. Para pasien itu berasal dari desa yang berbeda, namun dari kecamatan yang sama. Yakni Kecamatan Sukasada.

Menurut Lina para pasien telah menunjukkan gejala yang identik dengan meningitis. Dari hasil penelusuran tim medis, para pasien memiliki riwayat makanan yang sama. Yakni mengonsumsi lawar getih. Diduga masakan itu tidak dimasak dengan baik, ditambah lagi kondisi tubuh kurang fit. Sehingga para pasien terinfeksi penyakit meningitis.

“Waktu kemunculan gejala itu bervariasi. Tapi punya riwayat makanan yang sama. Makan lawar saat pagerwesi. Jadi gejala itu muncul dua hari sampai tiga hari setelah konsumsi,” ungkapnya.

Dari pasien-pasien tersebut, sebanyak tujuh orang telah menunjukkan gejala pemulihan. Mereka tengah dirawat di Ruang Sandat RSUD Buleleng. Namun ada seorang pasien yang masih dalam kondisi kritis. Pasien itu kini dirawat di Ruang ICU RSUD Buleleng.

Tim medis telah mengambil sampel cairan otak para pasien untuk mengonfirmasi bakteri yang menjangkiti para pasien. Namun diduga mereka terjangkit bakteri strepcoccus suis yang ditemukan pada hewan babi. Bakteri itu biasanya ditemukan pada darah dan kotoran ternak.

Untuk menangani para pasien, dokter telah memberikan obat-obatan untuk membunuh bakteri, meminta pasien mengonsumsi antibiotik selama dua pekan mendatang, serta meredakan gejala ikutan yang muncul.

Lina menyatakan para pasien meningitis memiliki peluang kesembuhan yang cukup tinggi. Berbeda dengan pasien meningitis meningokokus. Kasus meningokokus memiliki tingkat kematian hingga 60 persen. Artinya enam dari sepuluh pasien meningokukus meninggal dunia.

“Bedanya meningitis hanya radang selaput otak. Tapi meningokokus itu radang selaput otak dan radang otak. Pasien yang kritis itu sudah radang otak. Kami masih lakukan perawatan maksimal,” imbuhnya.

Meski begitu, pasien meningitis yang sembuh biasanya akan mengalami gangguan pendengaran akibat ketulian saraf. Kondisi itu tak bisa diobati maupun ditangani dengan alat bantu saraf. Hanya 10 persen kasus kesembuhan meningitis yang kembali normal seperti sediakala.

Di sisi lain, Direktur RSUD Buleleng, dr. Putu Arya Nugraha, Sp.PD. mengungkapkan hampir setiap tahun selalu ada kasus meningitis. Namun jumlahnya tak pernah banyak. Ia juga tidak pernah menemukan delapan kasus yang terjadi secara beruntun dalam sebulan. Biasanya kasus terjadi secara parsial.

Melihat kondisi tersebut, ia menghimbau masyarakat agar lebih bijak dalam mengonsumsi produk-produk hewani. “Kalau mau mengonsumsi daging, lebih baik dimasak dulu. Bukan dikonsumsi mentah. Kalau toh mau ngelawar, ya sebaiknya dimasak dulu supaya bakterinya mati. Sehingga peluang terkena penyakit juga bisa ditekan,” himbaunya. (eps)

  Editor : Donny Tabelak
#pagerwesi #bakteri #meningitis #lawar babi #Lawar Getih