Proyek itu adalah pembangunan Pura Taman Desa Adat Bila Tua. Seluruh krama desa adat menyungsung pura tersebut. Pura yang terletak di Banjar Dinas Kawanan Desa Bila itu juga jadi lokasi melasti warga.
Pantauan Jawa Pos Radar Bali, pembangunan pura itu jauh dari kata selesai. Hanya terdapat 51 tiang pancang. Pekerjaan sempat terhenti selama tiga bulan terakhir. Namun kemarin ada tiga orang buruh bangunan yang bekerja di sana. Mereka mengaku baru diminta bekerja beberapa hari terakhir.
Perbekel Bila, I Ketut Citarja Yudi mengungkapkan, Pura Taman Desa Bila Tua masuk dalam area genangan bendungan. Karena masuk wilayah terdampak, krama mendesak agar Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida mencari jalan keluar. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah membuat pura berada di posisi lebih tinggi dari posisi semula. Sehingga saat bendungan penuh, genangan air tak sampai merendam pura.
Solusi itu sempat disampaikan pada krama di Pura Desa Bila Tua beberapa tahun silam. Usulan itu pun disetujui seluruh krama.
Singkat cerita, proyek perbaikan pura mulai dikerjakan pada pertengahan November 2022 lalu. Semestinya pura itu selesai dalam tempo waktu tiga bulan. Namun jelang Nyepi, proyek tiba-tiba terhenti. Belakangan baru ada tanda-tanda pekerjaan proyek lagi.
“Kami dari desa sudah ke BWS, dan kepada Bapak Gubernur, tapi belum ada jawaban. Terakhir kami bersurat lagi ke DPRD Bali,” ujar Citarja.
Menurutnya krama adat kian resah. Sebab belum ada tanda-tanda proyek akan selesai. Sementara desa adat sudah negen dewasa (menentukan tanggal) upacara pada 27 November mendatang. Itu berarti hanya ada sisa waktu selama lima bulan untuk menyelesaikan pura.
“Karena belum ada tanda-tanda kesungguhan dari pelaksana proyek. Makanya krama di sini juga resah,” ujarnya.
Ia berharap BWS Bali-Penida segera menindaklanjuti pembangunan pura itu. Sebab waktu yang tersisa untuk upacara cukup sempit. “Paling tidak ada koordinasi dan komunikasi dengan desa adat,” demikian Citarja. (eps)
Editor : Donny Tabelak