BULELENG-Harga beras tak kunjung terkendali. Cuaca ekstrim dituding jadi kambing hitam. Alhasil warga miskin jadi korban. Mereka harus mengurangi konsumsi nasi agar dapat bertahan.
Luh Sriasih tampak duduk lesehan di pelataran Kantor Perbekel Baktiseraga. Dia mengaku sudah menunggu sejak pukul 11.00 pagi. Dia tengah menanti giliran mengambil beras bantuan pangan dari pemerintah pusat.
Sriasih merupakan salah seorang penerima bantuan beras di Desa Baktiseraga. “Ya lumayan dapat beras sepuluh kilo. Mau beli beras murah sulit sekali,” kata Sriasih.
Ia mengaku harga beras melonjak tinggi. Kini mencapai Rp 14 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya harga beras hanya menyentuh angka Rp 12 ribu per kilogram.
Setali tiga uang dengan Sriasih, Nyoman Nadi mengeluhkan hal yang sama. Ia pun mengaku rindu dengan harga beras Rp 10 ribu per kilogram. Seingat dirinya, sudah lebih dari enam bulan belakangan harga beras berada di atas Rp 10 ribu per kilogram. “Sekarang beras C4 biasa, yang tidak ada mereknya itu sudah Rp 14 ribu sekilo. Sudah dua minggu ini harga tambah mahal,” kata Sriasih.
Dia sudah berusaha mencari beras yang harganya relatif lebih murah. Yakni beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan. Namun menemukan beras ini cukup sulit. “Saya sudah cari ke toko dan warung ke sekitar Baktiseraga ini. Tapi nggak ketemu. Kalau di pasar saya belum coba,” imbuhnya.
Lantaran harga beras semakin mahal, dia pun harus mengencangkan ikat pinggang. Di antaranya mengurangi pengeluaran yang tak perlu. Bahkan dia harus rela mengurangi konsumsi nasi. “Ya bagaimana lagi, biasanya Rp 50 ribu dapat beras sampai lima kilo, sekarang cuma dapat 3,5 kilogram. Jadi ya apa adanya saja. Mau nggak mau harus tetap beli,” katanya lagi.
Kenaikan harga itu diakui Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Buleleng, I Gede Putra Aryana. Menurutnya gejolak harga terjadi karena gabah di Buleleng diborong ke luar Bali. Di atas kertas, Buleleng sebenarnya swasembada pangan. Tapi mengalami kendala dalam rantai distribusi.
Solusinya pemerintah kini menyalurkan cadangan beras pemerintah. Sebanyak 48.844 keluarga miskin akan mendapat beras sebanyak 10 kilogram per bulan. bantuan itu akan diberikan hingga November. Selain itu pemerintah juga meminta Bulog mendistribusikan beras SPHP. “Kalau beras SPHP, itu Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 54.500 per sak isi lima kilogram. Itu juga distributor sudah dapat untung Rp 900 per kilogram. Kami harap ini bisa menekan harga,” harapnya. (*)
Editor : Donny Tabelak