SINGARAJA– Pemerintah kini tengah mendorong petani menanam cabai rawit. Komoditas itu menjadi salah satu pemicu inflasi.
Harga cabai meroket gegara gagal panen akibat kemarau berkepanjangan. Dikhawatirkan harga akan terus menanjak, lantaran pada Januari-Maret harga cabai selalu naik.
Saat ini luas tanam komoditas cabai di Buleleng memang merosot. Tahun lalu, luas tanam mencapai 1.100 hektare.
Sementara tahun ini luas tanam hanya 520 hektare saja. Tingkat produksi cabai di Buleleng sebenarnya mencapai 14.783 kwintal. Dari hitung-hitungan di atas kertas, angka itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam daerah.
“Masalahnya petani kan tidak menjual di dalam daerah saja. Mereka juga melayani pengepul yang memasok ke Denpasar, Tabanan, Badung, dan Gianyar. Pengepul juga berani bayar lebih tinggi,” kata Kabid Hortikultura pada Dinas Pertanian Buleleng, I Gede Subudi, Rabu (22/11).
Menurut Subudi saat ini pemerintah sudah menggelontorkan 100 ribu bibit cabai kepada petani.
Bibit dibagikan bertahap sejak September hingga Desember mendatang. Tercatat ada 17 kelompok tani di 12 desa yang mendapat bibit. Harapannya tanaman sudah berbuah pada Januari hingga Februari mendatang.
Nantinya cabai-cabai itu akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan di dalam daerah. Hanya saja tantangan yang dihadapi adalah ketersediaan air bersih. Saat ini musim hujan ternyata mundur dari prediksi awal. Sehingga petani harus kerja ekstra mencari air agar pertumbuhan cabai tetap bagus.
“Seperti di Desa Sari Mekar itu, ada petani yang terpaksa menyiram pakai air PDAM. Memang biayanya mahal. Tapi kalau dibiarkan tidak dapat air, akan lebih rugi lagi,” imbuhnya.
Selain itu Dinas Pertanian juga tengah mendorong agar petani-petani di Kecamatan Gerokgak mulai menanam cabai. Sentra cabai di Gerokgak terpusat di Desa Sumberklampok, Pejarakan, Sumberkima, hingga Pemuteran.
Apabila petani mulai menanam pada awal Desember mendatang, Subudi meyakini petani sudah membuahkan hasil pada bulan Februari tahun depan.
Sehingga produksi cabai bisa melimpah sekaligus mengantisipasi kenaikan harga pada periode Januari-Maret. Dengan catatan, tidak terjadi hujan ekstrem yang dapat membuat cabai menjadi busuk.
“Mungkin masih akan terjadi kenaikan harga saat itu. Harapannya kan kalau toh naik, masih bisa dijangkau masyarakat dan tidak terlalu berpengaruh pada inflasi,” tukasnya. ***
Editor : Donny Tabelak