Banyak tradisi kampung muslim di Bali yang tetap Lestari sampai kini. Di Kelurahan Kampung Singaraja, Buleleng, misalnya, terdapat tradisi unik. Yakni tradisi kedencong. Uniknya lagi, gamelan yang digunakan merupakan warisan dari puri yang lestari hingga kini.
SUARA kendang terdengar bertalu-talu. Puluhan warga menyemut di sekitar areal lapangan yang berada dekat Kantor Lurah Kampung Singaraja, Kecamatan Buleleng.
Tak lama kemudian, dua orang pria yang sudah berusia 50-an menyeruak dari barisan penonton.
Keduanya kemudian mengeluarkan jurus pencak silat, lalu saling adu jurus. Tak lama kemudian, mereka langsung berpelukan.
Senin (16/9/2024) sore, warga di Kelurahan Kampung Singaraja, khususnya di kawasan Kampung Islam Dangin Puri punya hajatan khusus. Mereka merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 12 Rabiul Awal, atau dalam kalender masehi, jatuh kemarin.
Perayaan itu diisi dengan berbagai kegiatan. Mulai dari lomba makan telur, lomba jurus pencak silat, serta atraksi pencak silat dari para tetua di kampung tersebut.
Baca Juga: Eratkan Persaudaraan, Pengajian Al-Ikhwan Gelar Maulid Nabi Muhammad SAW
Salah satu yang paling dinanti adalah atraksi pencak silat dari para tetua. Mereka mengeluarkan berbagai jurus pencak silat yang telah dipelajari secara turun temurun. Baik itu beladiri tangan kosong maupun yang menggunakan senjata berupa tongkat.
Selain itu ada juga atraksi memecahkan botol bir hanya dengan menggunakan tenaga dalam.
Saat melakukan atraksi itu, para pendekar di Kampung Islam diiringi oleh gamelan yang dinamakan kedencong. Gamelan ini sangat unik, karena telah berusia berabad-abad. Gamelan itu diyakini peninggalan Laskar Islam Panji Sakti.
Gamelan itu sangat mirip dengan gamelan baleganjur pada umumnya. Hanya saja, perangkat yang digunakan lebih sederhana. Yakni terdiri dari dua buah kendang, sebuah neng nong, sebuah kempul berukuran besar, sebuah kempul berukuran kecil, dan sebuah kecek.
Pelestari Kedencong Kampung Islam, Atim Burhani menuturkan, gamelan itu sudah ada sejak tahun 1700-an silam. Gamelan itu merupakan hadiah dari pihak puri kepada Laskar Islam Panji Sakti yang datang dari Blambangan.
Menurut Atim, setelah menaklukkan Blambangan, Raja Buleleng, I Gusti Anglurah Panji Sakti membawa puluhan orang laskar perang dari Jawa Timur. Laskar itu kemudian diberi tugas menjaga perbatasan Kerajaan Buleleng, khususnya di sisi selatan.
Salah seorang laskar yang mendapat kepercayaan cukup besar dari Raja Panji Sakti adalah Nurul Mubin. Dia diberikan lahan yang kini menjelma menjadi Kampung Islam Dangin Puri, yang lokasinya berada di sisi timur Puri Kanginan Buleleng.
Di sana, keturunan Nurul Mubin kemudian beranak cucu dan membentuk pemukiman tersendiri. Termasuk mendirikan sebuah masjid yang kini bernama Masjid Nurul Mubin. Masjid itu berdiri sejak tahun 1725 silam.
Pihak puri kemudian disebut menghadiahkan seperangkat gamelan kepada Laskar Islam dan keturunannya yang tinggal di Kampung Islam Dangin Puri. Perangkat gamelan itu digunakan untuk memompa semangat para laskar yang membela Kerajaan Buleleng.
“Ini memang dari Kerajaan Blambangan. Karena dulu leluhur kami ikut perang dan berhasil membawa kemenangan, kemudian diberikan hadiah Kedencong oleh puri,” kata Atim.
Atim mengaku dirinya tidak tahu pasti sejak kapan gamelan itu ada. Ia memperkirakan gamelan itu diberikan setelah Masjid Nurul Mubin berdiri. “Kemungkinan antara 1730 sampai 1750-an itu,” ujarnya.
Lebih lanjut Atim menjelaskan, gamelan kedencong pada awalnya digunakan khusus mengiringi pencak silat. Gamelan itu diyakini memberikan getaran magis kepada para laskar yang akan berperang. Semakin intens gamelan, maka semangat makin terpompa.
“Kalau pencak silat nggak ada diiringi kedencong, rasanya itu kurang. Seperti hambar. Tapi kalau kedencong saja, tidak ada pencak, juga rasanya kurang lengkap,” kata Atim.
Seiring berjalannya waktu, kedencong tak hanya berfungsi untuk mengiringi pencak silat. Tapi juga berfungsi untuk menyambut tamu. Kedencong juga sewaktu-waktu digunakan untuk mengiringi kegiatan keagamaan di Puri Kanginan.
Atim menyebut tidak ada tembang khusus yang dimainkan. Tembang yang dimainkan selalu sama dan seragam.
“Hanya tempo dan intonasinya saja yang beda. Kalau menyambut tamu atau upacara di puri, itu nadanya lambat. Tapi kalau untuk pencak silat, itu temponya cepat,” ujarnya.
Kendati telah berusia 2,5 abad, perangkat gamelan kedencong masih lestari. Seluruh perangkat gamelan, masih berasal dari pemberian puri. Tidak ada yang di-service, maupun diganti dengan perangkat gamelan baru.
Hal itu tak lepas dari perawatan yang dilakukan oleh para pelestari gamelan. Atim menyebut, perangkat yang perlu mendapat perawatan ekstra adalah kendang.
Sebulan sekali ia akan menghangatkan air, lalu memanfaatkan uap air panas untuk merawat kendang. “Istilahnya nguapin,” kata Atim.
Selanjutnya kendang akan dijemur dengan sinar matahari terik. Setelah dianggap cukup, kendang akan dipukul-pukul seperlunya. Baru kemudian disimpan kembali.
Kini tantangan terbesar Sekaa Kedencong Kampung Islam adalah menjaga regenerasi. Sebab kalangan muda lebih banyak bekerja, bahkan merantau sampai keluar Buleleng. Hal itu menyebabkan proses latihan dan pelestarian terkendala.
Dari 50 orang anggota sekaa, hanya 10 orang saja yang berasal dari kalangan muda. Itu pun yang bisa intens hanya tiga orang saja.
“Karena kerja dan merantau, kami kan tidak bisa memaksa. Memang kendala terbesar itu soal regenerasi. Tapi kami tetap berusaha mengajak, supaya mereka tetap mau terlibat. Karena nanti yang menjadi pewaris kedencong ini yang muda-muda sekarang,” demikian Atim. [eka prasetya]
Editor : Hari Puspita