Sosok-sosok heroik di Bali utara itu diabadikan dalam monumen. Kisah para pelawan penjajah penegak hukum tawan karang ini tak lekang melintasi zaman hingga kini dan esok. Di abadikan untuk dikenang dalam taman ini.
BANGUNAN monumen Perang Jagaraga berada di Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Buleleng. Posisinya persis berada di pinggir Jalan Raya Desa Jagaraga.
Lokasinya sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Singaraja. Tempat ini memang cocok untuk refreshing sekaligus belajar sejarah, apalagi lokasinya yang cukup jauh dari hiruk pikuk lalu lintas antar provinsi dan kabupaten.
Monumen ini diketahui berada di bawah pengelolaan Dinas Sosial (Dissos) Kabupaten Buleleng.
Tempat ini dibangun di tahun 2016 dan selesai tahun 2017, saat Buleleng dipimpin Bupati Putu Agus Suradnyana.
Tampak dari luar, Monumen Perang Jagaraga ini dikelilingi tembok tinggi berwarna merah pastel.
Tempat parkirnya pun lumayan luas, dapat menampung sepeda motor, mobil, hingga bus.
Untuk masuk ke dalamnya pun gratis, apabila tidak melakukan kegiatan-kegiatan bersifat komersial maupun sosial.
Sebab sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2023 tentang Pajak Daerah dan Retribusi, maka pengguna Monumen Perang Jagaraga dikenakan biaya retribusi, sebesar Rp 300 ribu/hari apabila melakukan kegiatan komersial, Rp 200 ribu/hari apabila melakukan kegiatan sosial, dan Rp 300 ribu/hari apabila melakukan kegiatan fotografi komersial.
”Untuk tahun 2024, ada 11 lembaga/organisasi yang melaksanakan kegiatan di area Monumen Perang Jagaraga,” ujar Kepala Dissos Buleleng, I Putu Kariaman Putra, kepada Jawa Pos Radar Bali.
Monumen dengan luas 55,5 are ini di dalamnya tampak asri. Selain dengan taman, ada juga kolam yang menambah kesejukan mata memandang.
Sejak masuk ke dalam, pengunjung sudah dimanjakan matanya dengan suasana hijau.
Tampak di bagian kiri dan kanan areal, ada wantilan yang dapat digunakan untuk kegiatan-kegiatan lembaga maupun perorangan.
Selangkah lebih dalam, terutama menuju ke arah tugu yang berdiri patung dua tokoh Puputan Jagaraga, yakni I Gusti Ketut Jelantik dan Jero Jempiring.
Keduanya memiliki peranan penting dalam perang tersebut ketika melawan Belanda pada tahun 1849. Patung keduanya menjulang setinggi 15 meter, yang melihat ke arah utara.
Sedangkan di bawah tugu, terdapat ruangan yang menggambarkan diorama Puputan Jagaraga. Juga sejumlah patung laskar atau prajurit yang menghidupkan suasana.
Kariaman mengungkapkan, ada sejumlah kendala yang terjadi di sana. Yakni pemasangan instalasi listrik yang tertanam di bawah tanah, sehingga saat terjadi permasalahan kelistrikan, utamanya saat musim hujan, membuat pihaknya kesulitan mengatasi permasalahan tersebut.
”Sumber air masih menggunakan air subak. Sehingga pada saat musim kering atau kemarau mengalami kesulitan untuk mendapatkan air, karena air lebih diprioritaskan untuk mengairi sawah,” lanjutnya. [francelino junior/radar bali]
Editor : Hari Puspita