Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Digigit Anjing 7 November 2024, Warga Buleleng Meninggal akibat Rabies, Diskes Sayangkan Sebelumnya Sulit Dihubungi

Francelino Junior • Rabu, 26 Februari 2025 | 15:15 WIB
LANGSUNG GELAR TRACING: Puluhan keluarga dan kerabat I Kadek Sugiartama menerima VAR dari Puskesmas Banjar II, Buleleng. (Foto: Dinkes Buleleng untuk Radar Bali)
LANGSUNG GELAR TRACING: Puluhan keluarga dan kerabat I Kadek Sugiartama menerima VAR dari Puskesmas Banjar II, Buleleng. (Foto: Dinkes Buleleng untuk Radar Bali)

SINGARAJARadar Bali.id – Satu warga meninggal akibat rabies, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Buleleng sangat menyayangkan I Kadek Sugiartama, 35, warga Banjar Dinas Tamblingan, Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng yang tidak dapat dihubungi pasca 14 hari observasi.

Sugiartama diketahui menjadi korban gigitan anjing rabies di Pasar Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.
Hal ini diungkapkan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Buleleng, Nyoman Budiastawan. Dipaparkannya, korban digigit anjing di bagian pergelangan kaki pada 7 November 2024 di Pasar Pancasari, Kecamatan Sukasada, tempat ia berjualan. Sugiartama lalu diantar ke Puskesmas Sukasada II.


Di sana, korban mendapatkan pengobatan dan pembersihan luka dengan dicuci air mengalir. Ini sesuai dengan SOP yang berlaku. Berdasarkan itu juga, dilakukan observasi selama 14 hari terhadap korban dan anjing yang menggigit.


Selama observasi itu, diketahui kalau anjing yang menggigit pergelangan kaki Sugiartama tidak ditemukan. Anjing itu juga tidak diketahui sosok pemiliknya. 

”Tapi setelah 14 hari, yang bersangkutan tidak datang ke Puskesmas Sukasada II, HP-nya juga tidak aktif saat dihubungi, padahal sebelumnya sudah diinfokan untuk datang,” jelas Budiastawan kepada Jawa Pos Radar Bali pada Selasa (25/2/2025) sore.

Berselang tiga bulan kemudian pada Selasa (18/2/2025), korban sempat berobat ke Puskesmas Pembantu (Pustu) Munduk. Di sana ia mengeluhkan sakit pinggang dan meriang. 

Sugiartama tidak menyampaikan, kalau ia pernah digigit anjing. Sehingga tim medis hanya memberikan obat sesuai keluhannya itu. Lanjut Jumat (21/2/2025), ia kemudian dibawa ke RSU Semara Ratih di Kabupaten Tabanan.

Gejala yang ditunjukkan di sana, ternyata sudah berontak dan takut air. 

”Belum sempat ditangani, keluarga sudah memaksa bawa pulang. Lalu Sabtu (22/2), dibawa ke RSUD Buleleng. Minggu (23/2/2025) kondisinya makin memburuk. Senin (24/2/2025) pasien sudah tidak bisa diselamatkan,” jelas Plt Kepala Dinkes Buleleng itu.

Pasca meninggalnya Sugiartama, Puskesmas Banjar II yang area kerjanya di wilayah tempat tinggal korban yakni Desa Munduk, melakukan tracing terhadap keluarga maupun kerabat yang melakukan kontak erat dengan korban.

Tercatat ada 19 orang keluarga dan kerabat yang datang ke Puskesmas Banjar II untuk mendapatkan vaksin anti rabies (VAR). Tujuannya untuk meminimalisir dampak lanjutan dari rabies yang menjangkiti Sugiartama.

Menurut Budiastawan, apabila pasca masa observasi selama 14 hari, korban datang kembali Puskesmas Sukasada II, kemungkinan  nyawanya dapat diselamatkan. Mengingat anjing yang menggigit tidak ditemukan selama observasi. 

”Kalau saat itu korban datang ke puskesmas lagi, pasti akan mendapatkan VAR,” tambah Budiastawan. 

Disinggung mengenai VAR, Dinkes Buleleng menyebut sampai saat ini ada 10.400 vial yang tersedia. Kata Budiastawan, jumlah tersebut cukup untuk enam sampai delapan bulan ke depan. Pihaknya berharap tidak ada peningkatan kasus rabies di Buleleng.

Untuk 2025 di dua bulan pertama (Januari-Februari), tercatat ada 605 kasus gigitan anjing, walau tidak seluruhnya berujung pada positif rabies. Dibandingkan 2024, total kasus gigitan anjing mencapai 5.617 kasus alias sudah mencapai 10 persen di 2025. 

”Tidak semua diberikan VAR, kalau hasil observasinya positif baru diberikan,” tutup Plt Kepala Dinkes Buleleng itu. [*]

Editor : Hari Puspita
#gigitan anjing #vaksin #rabies #buleleng